Kamis, 11 Oktober 2012



Cerpen Cinta: YOU ARE MY EVERYTHING

YOU ARE MY EVERYTHING
Oleh Bella Danny Justice

Cerpen Cinta
“kenapa kamu tega menghianati aku Miko ? apa salahku selama 1 tahun kita bersama ? apa ?! katakan padaku Miko !!” aku tak dapat lagi menahan rasa sakit hati yang meluap-luap di dada. Aku tidak peduli jika ia menganggap aku wanita yang cengeng. Aku menangis di hadapannya karena aku tidak bisa lagi mentolerir perbuatannya kali ini. Miko, kekasihku yang sudah menghiasi hari-hariku selama 1 tahun kini berhianat dengan wanita lain. Aku tidak tau siapa wanita itu, aku tidak mengenalnya, tetapi Miko sendiri yang mengaku kepadaku kalau ia sudah mengecewakan aku dan meminta padaku untuk mengakhiri hubungan kami karena ia merasa sudah tidak mungkin untuk melanjutkan semuanya ini.

“aku sungguh minta maaf Sharon, tapi aku tidak bisa lagi bersamamu. Maafkan aku...” Miko tidak memberiku kesempatan untuk berbicara, ia langsung pergi meninggalkan ruang tamu rumahku yang hanya berisikan kami berdua. Tangisku pecah saat mendengar pintu rumahku tertutup. Miko sudah benar-benar pergi, ia tidak akan kembali lagi, ia ternyata serius dengan perkataannya. Aku bodoh sekali telah mempercayainya. Ini semua kesalahanku dan aku layak menerimanya.
‡‡‡

Aku hanya tinggal dirumah bersama dengan Bi Lastri dan supirku Mas Seno. Orangtuaku selalu sibuk mengurus bisnis di luar kota atau luar negri. Meskipun begitu aku tidak pernah merasa kesepian karena mereka berdua selalu menghibur dan menemaniku. Tentu saja, karena Bi Lastri dan Mas Seno sudah mengasuhku sejak bayi sampai sekarang aku menjadi mahasiswi, aku tetap masih membutuhkan mereka.

Ketika Miko memutuskan hubungan kami aku pun menceritakan semuanya kepada mereka. Aku menangis di pelukkan Bi Lastri wanita paruh baya itu. Ia membelai rambutku dan menenangkan aku seperti anaknya sendiri. Walau Miko tidak mencintaiku tetapi aku beruntung karena masih mempunyai mereka yang menyayangiku. Untuk itu aku berjanji tidak akan terpuruk karena dia.

“loh non Sharon kok belom ganti baju sih ? Tuan sama nyonya udah nunggu di bawah untuk makan malam dari tadi, cepetan ya non abis itu non langsung turun.” Ujar Bi Lastri yang sudah bolak-balik ke kamar untuk mengingatkan aku berulang kali.

“iya iya, bilang sama mama dan papa suruh tunggu ya bi. Aku bentar lagi turun, mau siap-siap dulu.” Kataku lalu menutup pintu kamar dan menguncinya setelah bi Lastri keluar.

Aku rasa aku tidak bisa menepati janjiku, aku rasa aku lebih baik mati daripada tidak bersama Miko. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Diriku hampa tanpa kehadiranya, tanpa senyum manisnya, serta canda tawanya. Sudah 1 bulan aku mengambil cuti kuliah karena aku merasa belum sanggup untuk mengikuti pelajaran mata kuliahku semenjak Miko meninggalkanku.

Dan kini mama dan papaku baru saja kembali dari Manado tadi pagi. Entah mengapa kepulangan mereka kerumah pun tidak bisa menghibur hatiku yang sedang terguncang.

Maafkan aku ma, pa... aku bukan anak yang baik, aku rasa aku tidak bisa makan malam bersama lagi dengan kalian, untuk selamanya... selamat tinggal...

Aku menelan banyak obat tidur yang ada di laci lemari kamarku malam itu. Aku berniat untuk mengakhiri rasa sakit ini. Aku yakin setelah aku meminum semua obat tidur ini aku akan merasa tenang dan rasa sakit itu tidak akan muncul lagi. Beberapa menit kemudian aku merasa tubuhku mati rasa, aku jatuh tergeletak ke lantai dan mengalami kejang-kejang.

Dari luar pintu kamar aku masih bisa mendengar mama dan papaku yang terus mengetuk-ngetuk pintu dan berteriak dengan cemas. Aku dengar mereka meminta bantuan pada Mas Seno untuk mendobrak pintu kamarku.

Tidak...ma, pa.. kalian jangan masuk... aku tidak ingin kalian menangisi anak kalian yang bodoh ini...

Mataku mulai meredup, perlahan tertutup dan aku tidak tau lagi apa yang terjadi setelah itu. Aku rasa aku sudah mati ? Ya, baguslah! Rencanaku berhasil! Ucapku dalam hati.
‡‡‡

Harapanku ternyata tidak terkabul. Orangtuaku membawaku ke rumah sakit tepat waktu sehingga aku berhasil diselamatkan. Aku sempat tidak sadarkan diri selama 2 bulan, dan sekarang aku sudah keluar dari rumah sakit itu. Mama dan papaku tampak terpukul dengan kejadian ini. Mereka menangis begitu mendapati aku tersadar dari koma. Aku sungguh seperti anak durhaka. Aku berdosa kepada mereka berdua dan terutama kepada Tuhan. Bagaimana bisa aku melakukan percobaan bunuh diri hanya karena seorang pria ? maafkan aku Tuhan..

Setelah kejadian itu orangtuaku memutuskan untuk membawaku ke London. Mereka ingin aku melupakan hal-hal yang terjadi di Jakarta dan memulai lembar kehidupan yang baru. Aku menyetujuinya, walaupun aku tau nanti di sana mereka juga tidak selalu hadir untuk menemaniku, tapi setidaknya aku berada di tempat yang baru dan aku harap aku bisa melupakan kenangan pahitku.

Keesokan harinya aku, mama dan papa segera terbang ke London. Aku pasti akan sangat merindukan Bi Lastri dan Mas Seno, tapi ini adalah jalan yang terbaik bagiku. Miko pun tidak pernah memberi kabar sama sekali sejak terakhir kali kami bertemu, padahal aku tetap ingin berteman dengannya, nomernya juga sudah tidak aktif lagi. Aku rasa ini memang saatnya aku untuk melupakannya.

Sesampainya di ibu kota Inggris itu aku langsung merebahkan tubuhku ke kasur karena Jet lag yang mendera. Ya, ini lah rumah baruku, tempat tinggal baru, dan orang-orang baru yang akan mengisi kehidupanku.

Mama memasuki kamarku dan menghampiri aku yang sedang terbaring di tempat tidur. “Sharon, kamu istirahat yang banyak ya, mama dan papa harus pergi ke Manchester untuk menemui relasi bisnis. Kalau kamu butuh sesuatu minta saja sama Nanny Grace. Oh ya, dia juga bisa berbahasa Indonesia.”

“ya, kalian berdua hati-hati.” ucapku sambil menarik bedcover bermotif bunga mawar itu.

Sendiri lagi... selalu seperti ini, and i’m getting used to it.

Aku menetap di London hanya sampai aku merasa lebih baik saja, aku tidak sungguh-sungguh pindah ke negara ini. Aku mengambil cuti 1 tahun di kampus ku dengan alasan terapi penyembuhan. Istilah “tidak ada tempat yang paling nyaman dari kampung halaman” itu memang benar. Walaupun tinggal di London, aku tetap rindu Indonesia dan aku akan segera kembali sampai aku selesai menata hatiku.

“Sharon, apa kau butuh sesuatu ?” sahut seseorang dari luar kamarku dengan bahasa Indonesia yang tidak terlalu fasih. Ya, itu adalah Nanny Grace.

“tidak, saat ini aku ingin tidur saja. Terimakasih tawarannya Nanny.” Balasku nyaring.

“baiklah. Istirahat yang cukup.” ujarnya.

Aku tidak merasa lelah lagi, justru sekarang merasa bosan. Aku membuka laptopku dan menyolokkan modem ke port usb. Sudah 3 bulan aku tidak membuka akun jejaring sosialku, mungkin ada hal terbaru yang tidak ku ketahui.

“maafkan aku meninggalkanmu, sekarang kau pasti membenciku. Tidak apa, itu justru yang aku inginkan karena aku memang tidak pantas mendapatkan wanita yang sangat baik sepertimu.. aku hanya seorang pengecut, i’m so sorry Ser..” 3 months ago.

Ketika membuka akun facebook-ku, itulah hal pertama yang aku liat di beranda. Itu adalah status yang ditulis Miko 3 bulan yang lalu. Karna penasaran aku pun membuka profilenya secara keseluruhan. Entah mengapa jantungku berdetak lebih cepat 2 kali lipat dari sebelumnya. Begitu tampilan facebook Miko terpampang lengkap di depan kedua bola mataku aku tidak dapat berkata sedikitpun. Aku hanya menggigit bibir bagian bawahku, menahan agar aku tidak menangis ketika membaca semua statusnya.

“sepertinya harapanku sudah sirna, kalau memang dia sudah melupakan aku dan bahagia bersama dengan orang lain, aku pun akan berusaha untuk bahagia.” 15 minutes ago.


“ini membuatku tersiksa, aku tidak sanggup lagi..” 1 day ago.


“aku harap dia tidak membuka akun facebooknya, kalau ya, aku benar-benar akan sangat malu.” 2 days ago.


“it’s so cold without you by my side, i’m sorry to hurt such an angle like you. You are my everything.” 4 days ago.


“you must be hate me so much.” 2 weeks ago.


“if only i could tell you the truth, would you still love me ?” 1 month ago.

Yang benar saja ?! apa kau benar-benar menulis semua status ini Miko ? tapi kenapa ? apa alasanmu melakukan ini semua terhadapku ? ternyata kau tidak pernah sungguh-sungguh ingin pergi meninggalkanku ?! lalu mengapa kau berbuat seperti itu ?? aku tidak mampu menahan cairan hangat itu keluar dari mataku, aku merasa sangat senang usai membaca semua statusnya, namun aku juga merasa sedih karena dulu ia tidak mau jujur kepadaku.

Beberapa saat aku menangisi hal itu lalu aku tersadar kalau kepergianku ke London adalah untuk menghapus kenangan pahitku. Ya! aku harus melupakan Miko! Lagipula sudah terlambat bagiku jika sekarang aku ingin berharap dia masih mencintaiku. Dari status yang ditulisnya 15 menit yang lalu dapat disimpulkan bahwa ia akan melupakanku cepat atau lambat, dan aku harus merelakan itu.
‡‡‡

Hanya 1 bulan aku berada di London dan aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Aku rasa aku sudah menata dengan benar hatiku. Aku yakin sudah tidak ada lagi perasaanku yang tersisa untuk Miko, mantan kekasihku yang dulu meninggalkanku. Meskipun aku tau kebenarannya, tapi itu sudah terlambat. Semuanya sudah berakhir...

“Sharon, are you really leaving ? please just stay with me..” pria bertubuh jangkung itu memelukku dengan erat. Ya, dia adalah Kieran, aku mengenalnya saat berkunjung ke perpustakaan umum di London ketika aku merasa down setelah mengetahui yang sebenarnya tentang Miko. Dia bekerja di sana, dia mengajakku berkenalan dan makan malam. Sebenarnya aku mulai sedikit menyukai laki-laki tampan berambut coklat itu, tapi aku harus pergi. Aku harus melanjutkan studiku di Indonesia yang sudah terbengkalai karena kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini.

Aku mengendurkan pelukannya perlahan. “i want it, but i can’t, i have to go now. Don’t be sad Ki, i’ll visit you right away. Goodbye..” Ucapku sambil menyunggikan senyum manis kepada Kieran.

Aku bersiap menggaet sebuah tas travel berukuran sedang dan koper besar. Tetapi saat aku akan membelokkan tubuhku untuk pergi dari sana tiba-tiba saja Kieran meraih pergelangan tanganku dan menariknya sehingga tubuhku berputar 180 derajat. Wajahku tepat di depan wajahnya dan sangat dekat, aku memandang mata birunya penuh tanda tanya. Kieran semakin mendekatkan wajahnya kearahku, ia menundukan kepalanya sedikit lalu dalam sekejap ia mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibirku yang membuatku tak bisa berkata apa-apa.

Kieran melepaskan genggamannya lalu berkata. “sorry if you don’t like it, but that’s our farewell kiss. I’ll be missing you Sharon..”

“thank you Kieran.” Ucapku lalu melangkah pergi dari sana. Kieran, dia satu-satunya pria yang mampu membuatku ragu untuk pergi dari London, tetapi aku tetap harus kembali ke Indonesia. Aku tidak akan melupakanmu Ki. Terimakasih kau sudah hadir dalam hidupku...
‡‡‡

Saat aku sudah menempati tempat duduk ku di pesawat, entah mengapa aku ingin membuka handphone dan melihat facebook-ku kalau-kalau ada seseorang yang menulis sesuatu di wall-ku.

Benar saja dugaanku, ternyata ada seseorang me-wall-ku. Dia teman SMA-ku dulu Flavia :

“oh my God! I really miss you Sharon!! It’s been so long, let’s meet up dear.” 6 hours ago.

“please turn off your cell phone because the plane will be taking off in a few minutes.” Ujar pramugari tersebut yang memperingatkan aku karena terlihat masih asik memegangi benda mungil itu.

“oh, ok.” Jawabku singkat.

Cepat sekali pesawat ini akan lepas landas. Aku pun bergegas log off dari facebook-ku, tapi aku sengaja kembali ke beranda. Dan hal itu membuatku terkejut! Aku melihat Miko baru saja mengupdate statusnya :

“going back to Indonesia from London, i can’t stand my dad anymore. I need to meet you! I have to tell you the truth.. hope you could understand.” Just now.

Apa ?! ternyata dia selama ini ada di London ?! dan sekarang ia sedang kembali ke Indonesia ?!

Ini benar-benar mengagetkan untukku. Aku berdiri dan mencari-cari sosok Miko. Aku duduk di bagian tengah, jadi aku harus mengecek ke bagian depan dan ke belakang supaya menemukannya. Namun beberapa saat mencarinya aku tidak mendapatkan Miko di bangku deretan depan maupun belakang. Dengan menghela nafas panjang aku pun kembali ke tempat dudukku.

Aku sedikit terkejut karena ketika aku kembali ke bangku ku aku mendapati tas besar milik seseorang ada di sampingku. Padahal sebelumnya aku tidak melihat tas itu, tiba-tiba saja benda itu muncul.

Aku duduk diam, memejamkan mata dan memasang headphone menyetel musik rock kencang-kencang. Entah kenapa aku merasa sedikit kecewa karena tidak dapat menemukan Miko dan seharusnya aku juga tidak perlu mencari pria itu, karena aku harus melupakannya.

Akhirnya pesawat pun lepas landas, hanya tinggal hitungan detik saja tapi orang yang duduk di sampingku tak kunjung datang. Apa dia belum pernah naik pesawat sebelumnya? Gumamku dalam hati.

“excuse me miss..” ucap seseorang dengan nafas yang bergemuruh seperti di kejar hantu. Ya, pasti orang itu!

“it’s ok, no...” saat aku melepaskan headphone dan membuka kedua mataku, aku tak berkutik dan bibirku tak bergerak sedikit pun memandang orang tersebut.

“Sharon ?” ucapnya dengan nada setengah tak percaya.
‡‡‡

Sungguh sebuah hadiah yang tak terduga bagiku. Aku satu pesawat dengan Miko dan tempat duduk kami pun bersamaan. Meskipun begitu aku tidak membuka mulut. Aku mengunci bibirku rapat-rapat dan berusaha bersikap acuh terhadapnya.

“maafkan aku Sharon... sekarang aku akan menjelaskan semuanya kepadamu. Aku harap kau bisa mengerti.” Kata Miko yang membuka pembicaraan di tengah keheningan kami selain suara pesawat yang sedikit bising terdengar.

Aku tidak memandangnya, aku hanya membalas ucapannya. “aku sudah tau semuanya, aku sudah baca semua statusmu. Tidak ada lagi yang perlu di jelaskan.”

“masih ada yang belum kau ketahui Sharon dan aku harus mengatakannya. Tolong izinkanlah aku menjelaskannya padamu.” Nada yang memelas itu membuat hatiku luluh. Rupanya aku belum bisa menata hatiku, rupanya aku masih menyukainya.

“katakanlah apa yang ingin kau katakan.” Ucapku berharap terdengar cuek.

“aku meninggalkanmu karena papaku memaksaku untuk belajar mengurus perusahaannya, itu ia lakukan karena menurutnya aku lah satu-satunya pewaris perusahan yang ideal. Dia tidak mau kakakku Tommy yang menjadi pewaris perusahaan karena baginya Tommy hanya akan memperburuk keadaan keuangan perusahaan yang sedang goyah saat ini. Karena itu aku beralasan kepadamu bahwa aku telah menghianatimu, tapi kenyataannya aku sama sekali tidak pernah melakukan itu Sharon. Aku sangat mencintaimu, tetapi di lain sisi aku juga tidak bisa menolak permintaan papaku. Tolong cobalah mengerti keadaanku Sharon, aku tidak pernah berniat untuk melukai perasaanmu sedi...” Miko terus saja berbicara dan itu membuat telingaku panas. Aku tidak bisa untuk tidak memaafkannya apalagi karena alasannya sangat kuat seperti itu.

Aku pun memotong perkataannya. “lalu kenapa kau kembali ? aku melihat status mu, kau bilang kau tidak tahan dengan papamu.” Kini aku mulai menatapnya, aku memberanikan diri memandang wajahnya. Dia tidak berubah, masih sama seperti dulu... sangat tampan..

Miko tertunduk sejenak, ia menggengam tanganku dan kembali berkata. “sebenarnya urusanku di London belum selesai Sharon, tetapi aku sudah tidak tahan lagi karena rasa bersalah yang terus menghantui diriku. Aku ingin kau tau semuanya, dan aku tidak ingin kau membenciku karena aku sangat menyayangimu.”

“jangan bicara lagi. Aku mencintaimu Miko. Dan aku tidak pernah bisa membencimu.” Aku langsung memeluk Miko saat itu juga. Rasanya aku rindu sekali dengan pria ini. Kalaupun aku ingin, aku tidak bisa membenci Miko. Aku bingung mengapa bisa seperti itu. Tapi satu yang pasti aku sangat senang bisa bersama lagi dengannya.

You are my everything, no one will be able to replace you from my heart...
You mean the world to me...
You’re the apple of my eye...

DE END

Facebook : Bella Justice
Twitter : @bellajusticee
E-mail : alexa.bella14@yahoo.com
This is my last story because i’m feeling bad now, I hope i could start a new story as soon as possible. Hope you all like it. :-)
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Bella Danny Justice / Cerpen Cinta Romantis dengan judul Cerpen Cinta: YOU ARE MY EVERYTHING
 Cerpen Cinta: YOU ARE MY EVERYTHING
Semua Tentang kita
Karya Putri Ayu Paundan

Cerpen Cinta Sedih
Namaku natasya, aku pernah mencintai seseorang dengan tulus. Tapi, semua ketulusan cintaku padanya berakhir sia-sia.
“Natasya, jangan sedih terus dong. Senyuum.” kata sahabatku dewi sambil mencari tisu di meja rias kamarku
“gue gak bisa dew, gue ga terima dia ninggalin gue, pergi gitu aja tanpa pamit.”
Arya adalah seorang cowok yang sangat aku sayangi, dia pergi meninggalkanku tanpa alasan. Akupun baru tau kepergiannya setelah sehari dia pergi. Dia juga tak pernah mengabariku kenapa ia pergi. Yang ku tau, Arya harus meninggalkan sekolah lamanya bersamaku karna dia di tuntut kedua orang tuanya untuk tinggal di pesantren , tepatnya di daerah lampung. Akupun terpukul mendengarnya.
“sya, lo gak bisa terus-terusan mikirin arya kaya gini. Dia itu gamau bilang kepergiannya karna dia gamau liat lo sedih. Coba kalo dia tau lo sedih kaya gini. Gimana sya.”
“tapi gue kecewa banget wi, lo ga ngerti perasaan gue.”
Sehari sebelum arya pergi, teman-teman sekelasku sebenarnya sudah tau akan kabar bahwa arya akan pindah dari sekolah. Tapi arya melarang mereka semua untuk memberitahuku dan merahasiakan semuanya. Ini juga karena arya gak ingin buat aku bersedih. Tapi justru malah sebaliknya .
***

Seminggupun berlalu, aku masih belum bisa menerima semua ini. Disekolah rasanya sepi tak ada arya di sisiku yang biasanya setiap hari menyapaku, tertawa bersama. Arya juga tak pernah mengabariku dia menghilang begitu saja. Sampai sekarang aku belum bisa memaafkannya sebelum aku tau alasannya mengapa dia tak memberitahuku tentang kepergian dan kepindahannya ke lampung. Aku mencoba melupakannya tapi aku tak bisa, perasaan ini menyiksaku. Semakin aku mencoba melupakannya, semakin aku tak bisa menghapus kenangan Arya dari hatiku.
“sya, maafin gue ya gue gak bilang sama lo . sebenernya gue udah tau Arya mau pindah dari sekolah, tapi Arya ngelarang gue buat bilang sama lo, katanya dia gak mau buat lo sedih. Lo pasti bisa dapetin yang lebih dari dia. Itu pesan arya buat lo.” Kata eza sahabatnya arya.
Saat eza bilang semua itu kepadaku entah mengapa, hatiku gak bisa menerimanya. Aku menyayangi arya, hanya arya yang selalu ada di hatiku, dan dia yang terbaik untukku. Itu menurutku.
“lo jahat za, kenapa lo gak bilang sama gue dan harusnya lo tuh ngerti.”
“iya, maafin gue sya. Gue salah, tapi mau gimana lagi arya udah pergi dan asal lo tau sya. Dia sayang banget sama lo. Dia sebenernya gamau pindah, tapi karna desakan orang tuanya dia pindah ke pesantren.”
“ gue kecewa za sama dia. Kenapa dia gak bilang dari awal?”kataku lemas
Aku meninggalkan eza yang masih diam membisu diambang pintu kelasku. Aku gak mau mendengar semuanya lagi. Aku udah cukup kecewa dengan semua ini. andaikan waktu bisa berhenti berputar untuk saat ini, aku ingin kembali dan melihat arya untuk terakhir kali.
***

Pagi hari di kelas,
Seiring berjalannya waktu meskipun arya tak pernah mengabariku, dan mungkin dia sudah lupa denganku. Yaa, begitupun aku masih terus mencoba melupakannya. Hari-demi hari kujalani semuanya seperti normal dulu sebelum arya pindah dari sekolah ini. Aku hanya bisa mencoba untuk ikhlas dengan yang ku jalani sekarang. Andaikan ini semua mimpi, aku tak mau ini semua akan terjadi. Tetapi apa daya semuanya bukan mimpi, ini nyata.
“sya...” panggil seseorang dari tempat duduk belakang dan ternyata itu eza , dia berjalan menghampiriku
“apaan za?’’ kataku
“sya, kemaren arya chat gue nanyain lo.”
“terus?”
“kok terus?”
“iyaa, terus kenapa? Apa urusannya sama gue?”
“adalah ”
“apaan?” tanyaku sinis
“dia masi nungguin lo.”
“oh.” Jawabku singkat
“dih ngeselin nih anak, emang lo gamau tau kabarnya dia?”
“ah gatau gue, gue bingung sama dia , dia bilang sayang sama gue tapi apaan ninggalin gue gitu aja dan udah seminggu lebih gue gatau kabarnya.”
“yaa lo tanya lah kabarnya gimana?”
“ngapain ah za, gue cewek gengsi kali nanya ke cowo duluan.” Kataku agak jengkel
“gue bingung ama lo berdua, lo sama arya sama-sama sayang, tapi gak ada yang mau mulai duluan. Gimana kalian mau jadian kalo sama-sama gengsi. Cinta, tapi munafik. ”
“harusnya dialah, minta maaf enggak , kabarin gue juga enggak. Kalo gue disuruh milih untuk kenal sama dia atau gak, gue akan lebih milih enggak dari pada gue harus sakit hati kaya gini akhirnya...gue malah kecewa banget.”
“yaaa, kemaren dia nanyain kabar lo, ya gue jawab lo sedih banget dia pindah.”
“lo jujur amat si za, aaaah tau deh.”
***

Hari terus berganti, meninggalkan semua kisah yang ada begitupun kisah ku dengan arya , aku bertekat untuk melupakannya. Aku udah cukup kecewa dengan semua ini. Setiap kali aku berdoa, mendoakannya untuk kembali bersama ku lagi seperti dulu tapi itu semua tak mungkin. Aku memang mencintai arya, tetapi tak pernah arya jujur akan rasa sayang dan cintanya kepadaku, selalu eza yang bilang kepadaku setiap kali arya curhat kepadanya. Aku bingung dengan semua ini, mencintai seseorang tanpa sebuah kepastian yang pasti.
Tuhan..... jika memang dia yang terbaik untukku, jagalah dia disana tuhan...
Jagalah hatinya untukku, dan jagalah hatiku untuknya...
Aku disini hanya bisa mendoakannya, melihat nya dari kejauhan...
Ini berat untuk ku jalani Tuhan... jauh dari seseorang yang aku sayangi.....
Aku menyayangi dan mencintainya... tabahkan hatiku Tuhan...
Tuhan .. hanya satu pintaku, jagalah iya saat aku jauh dari sisinya.... :’)
Setiap malam setiap ada kesempatan aku berdoa dan menangis, akankah cintaku padanya akan kembali seperti dahulu menjalani hari-hari dengan penuh canda maupun tawa. Cinta ini membunuhku...kau adalah mimpi takkan pernah ku gapai.
***

Sebentar lagi liburan semester tiba, 6 bulan sudah berlalu. Sebenarnya momen-momen itulah yang selama ini ku tunggu. Karna liburan sekolah Arya pasti pulang ke Jakarta dan ada kemungkinan kita akan bertemu lagi. Tetapi , mendengar kabar kalo Arya pasti akan pulang ke Jakarta hatiku biasa saja. Tidak ada getaran-getaran seperti dulu saat aku bersamanya, mungkin karena selama 6 bulan ini aku sudah terbiasa tanpanya, yaa meskipun awalannya aku sangat terpukul dan kecewa juga sedih. Tapi sekarang aku sudah mempunyai seseorang yang bisa menggantikan hati Arya di hatiku yaitu Aka sudah 6 bulan juga aku mengenalnya. Aka datang di kehidupanku ketika hatiku sedang hampa dan kosong tanpa arah. Dia menyembuhkan luka di hatiku, awalnya aku memang tak bisa melupakan Arya karna bagaimanapun juga Arya akan selalu tinggal di hatiku. Saat kepergian Arya, Aka lah yang selalu menemani hari sepiku selama 6 bulan aku mengenal Aka, bagiku dia adalah seorang cowok yang baik , pengertian, dan sabar. Sudah 3 kali Aka menyatakan perasaannya padaku , tetapi tak pernah ku jawab aku hanya bilang kepada aka kalo aku masih mengejar sesuatu. Aka pun mengerti, walaupun dia tak pernah tau aku masih menunggu seseorang , yaitu Arya. Dan Aka masih setia menunggu hatiku. Dan akupun janji akan menjawabnya, aku menerima cintanya atau tidak saat ulang tahun Aka nanti.
***

Pagi di sekolah,
“besok kita bagi rapot sya.” Kata dewi sahabatku
“iya , gue takut nih jadinya masuk jurusan apa wi.”
“udah yakin lo pasti IPA. “
“yaa mudah-mudahan aja kalo kita bisa satu kelas lagi, lo IPA dan gue juga.”
“amiin.”
“haaai semua.” Sapa eza sambil duduk di sebelahku
“apaan si za, JB JB aje.” Kata ku
“hahaha.... lagi ngomongin apaan si? Serius amat?” eza tertawa pelan
“jurusan za...” kata dewi
“oh gitu yaa... lo pasti mah IPA, kalo gue sih maunya IPS.”
“yaa amin-amin mudah-mudahan kita masuk yaa.” Kataku
“iyaa amin .” kata mereka berdua
“eh sya, btw gimana perasaan lo sekarang sama Arya?”tanya eza kepadaku
“yaaah, lo ngomongin Arya lagi.” Jawabku lemes
“dia selau nanyain keadaan lo sama gue sya, ya gue jawab lo baik. Arya juga bilang kenapa dia gak nembak lo. Katanya dia , dia gamau nyakitin lo lagi emangnya lo mau pacaran jarak jauh sama Arya? Arya takut lo nolak dia, kalopun lo nerima dia, kasian elo nya arya gak pernah ada di samping lo . lo tau kan pesantren gimana? Dia pulang juga pas liburan.”
“yaaa.. gue tau. Status menurut gue gak penting. Yang gue mau komitmen za. Kepastian. Dia sayang sama gue tapi dia gak pernah bilang ataupun jujur sama persaannya sama gue. Gimana gue mau percaya sama dia, bisa aja kan dia pacaran disana atau udah punya cewek pengganti gue? Gue yakin za. lagian 6 bulan udah berlalu. Gue mungkin bisa lupain dia, tapi gue gak akan bisa ngelupain semua kenangan tentang kita”
“oh iya, liburan dia kesini sya. Dia pengen ketemu sama lo.”
“gue gamau lah za, udah cukup yang dulu2 gue gamau nantinya keinget dia lagi. Sekarang gue udah punya yang lain, meskipun gue belum jadian sama dia. Tapi kita udah deket semenjak Arya ninggalin gue.”
“siapa?” tanya eza
“aka namanya za, dia ganteng putih jago main basket dan juga jago futsal.” Kata dewi yang menambah pembicaraan suasana menjadi semakin hangat
“serius lo sya?” tanya eza tak percaya
“iya, gue serius dan suatu saat kita pasti akan jadian.” Kataku padanya
“jujur nih gue sya sama lo Arya disana banyak yang nembak dan banyak yang sukain. Lo mau tau semua cewek yang nembak dia banyak, terus dia tolak. Adapun anak SD nembak dia, dan katanya mirip sama lo.”
“terus di terima?” kata dewi sahabat ku, yang duduk di sampingku sembari membaca novel
“gue belom tau kabarnya. setau gue sih dia belum jawab mau nerima tu cewek apa enggak.”
# Bel pun berbunyi
***

Pagi hari,
Hari ini adalah hari yang ku tunggu-tunggu mama ku sudah bersiap-siap untuk mengambil rapotku. ketika sampai di sekolah , aku berpapasan dengan eza. eza tak melihatku mungkin dia gak sadar seseorang yang berpapasan dengannya itu aku. Setelah pembagian hasil rapot selesai ternyata alhamdullilah akhirnya aku masuk jurusan IPA, jurusan yang selama ini aku cari dan sudah aku rencanakan.
“sya, tar abis bagi rapot main yuk.” Kata sari teman dekatku
“okeey, siapa aja?” tanyaku
“banyak lah. Pokoknya.”
“okedeh.”
“lo udah bagi rapot?” tanyanya
“udah nih,”
“wesss... ipa nih ye. Slamet yaa.”
“lo emang belom?” tanyaku
“belom, tar abis ini.”
“oh okey, emng kita mau main apa?”
“main UNO aja, hehe lo bawa uno?”
“kagak sii, yaudah gue balik dulu yaa..tar samper gue aja.”
***

Siang hari,
“natasya, ayok berangkat main.. anak-anak udah pada ngumpul. Jangan lupa uno nya.”
Aku naik motor di jemput oleh teman dekat ku sari. Setelah beberapa menit sampai di rumah sabi, akhirnya kita semua main UNO
“sabi, si eza gak dateng?”
“gatau sya, katanya mau pergi.”
Sabi adalah teman deketku juga , karna rumahnya adalah basecame kami, tempat kami berkumpul dan bercanda bareng
Tak lama sambil kita memainkan UNO , ada suara motor berhenti di rumah sabi. Ici temen ku keluar dan membuka pintu. Ku lihat dari arah jendela ternyata eza, tetapi disana ada seseorang lagi. Memakai helm dan sepertinya aku mengenalnya, Cuma dari jendela tidak terlalu kelihatan. Seseorang itu melepas helm nya dan ternyata... OMG ! batinku...... ternyata seseorang itu adalah...
“sya, ada Arya tuh.”
“hah ? serius lo sab?”
“iya serius gue, tuh anaknya kesini kan.”
Oh Tuhaan.... apa salahku, aku tak ingin bertemu dengannya. Tetapi sekarang kita malah di pertemukan. Apa ini takdirku Tuhan.. untuk bertemu dia lagi. Deg..... tiba-tiba saja terasa jantungku berhenti, getaran ini sudah lama tak kurasakan. Sangat berbeda sekali bila aku dekat dengan aka, tidak ada getaran seperti ini. ada apa ini?” batinku
“sorry sya, dari awal kita semua sudah ngerencanain ini, untuk nemuin lo sama Arya.”
Aku dan arya hanya tersenyum tipis. Tapi aneh sikapnya Arya, dia bener-bener berubah. Dia tak menyapaku. Bahkan menegurku itupun tidak. Apa yang terjadi Tuhan batinku. Apa dia sudah menemukan yang lain? Entahlah.... selama kita semua ngobrol, tetapi aku dan arya tidak juga saling tegur sapa, kenal.. tapi kaya ga kenal.. Arya seperti orang asing dalam hidupku.
“sya, arya kalian berdua diem aja..” ledek mereka
“ayodong kangen-kangenan apa kek gitu?” kata ici teman dekatku yang juga ikut meledek
“tau lo ya, udah ada orangnya malah di cuekin. Giliran ga ada malah nyariin.”ledek eza
“apaansih lo za, gajelas.” Jawabku sinis
“yee lo berdua tuh cinta, tapi munafik. Sama-sama cinta tapi malu-malu gak ada yang mau mulai duluan. Gininih jadinya cuek-cuekan kalo ketemu.”
Kenapa harus gue yang mulai duluan apa musti gue yang negur duluan? Siapa yang buat salah ? gue kah? Atau dia? Yang ninggalin gue siapa? Yang buat gue sedih siapa? Yang buat gue kecewa dan sakit hati siapa? Harusnya lo sadar Arya ! batinku meringis.
“yaudah lah za, kalo mereka emang mau diem-dieman.” Kata sabi
Aku hanya tersenyum ke arah mereka yang menatapku juga Arya. Setiap kali aku memergoki arya melirikku, dan aku juga meliriknya batinku nangis apa iya arya gak kangen sama aku, atau minta maaf? Tapi apa nyatanya... itu tidak sama sekali !! yang ku lihat dari sorotan matanya masih ada cinta dan rindu dihatinya. Akupun merasakan itu. Tatapannya, masih seperti dulu, dingin tetapi penuh arti dari sorotan matanya penuh keteduhan. Andai saja tatapan ini bisa membunuh, mungkin aku sudah terkapar olehnya.
Akhirnya kita semua main UNO , mainan yang biasa kita mainin kalo gak ada mainan yang bisa dimainin . kita anak SMA tetapi masih main kartu UNO, yaa walaupun UNO buat semua umur. Eza pun membagikan kartu UNO nya. Dan kita semua main. Ternyata seiring berjalannya waktu, pertama sari keluar menang, disusul sabi, disusul eza, dan yang terakhir ici, yang salalu main UNO keringetan. Main UNO aja kok keringetan? Dan yang tersisa hanya aku dan aray. Permainan semakin menegang. Belom ada kepastian siapa yang menang aku ataupun aray.
“ayodong menangin sya.” Teman-temanku menyemangatiku. Begitupun aray yang sibuk dengan kartu-kartunya .
“udeh lo pasti menang deh ray.” Kata eza yang malah membela aray di banding aku
“eh belom tentuu.” Kataku , daaaannnn.....
“UNO ! “ aray mengucapkan kata itu bentar lagi dia menang karna kartunya tinggal satu 4+ ternyata.”
aku pun kalah saat permainan itu. Tapi taapalah ini hanya sebuah permainan, akhirnya kita semua tertawa bersama.
bahagia itu sederhana ... walaupun aku dan aray tak saling tegur sapa bahkan saat bermain aray tak juga menatapku. Tetapi dengan melihat aray tersenyum atas kemenangannya padaku. Aku sudah senang.” #Bahagiaitusederhana aku mungkin saja melupakanmu ketika kau pergi, dan jauh disana..tetapi cinta, perasaan kembali ada ketika kau datang
waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Karna hari sudah sore akhinya kita semua memutuskan untuk pulang. Pertemuan yang sangat singkat antara aku dan juga Aray. Sampai pulang kita berdua juga gak ngobrol dan saling cuek-cuekan. Yaa... itulah aray dingin dan sangat cuek
***

Malam ,
Aku masih teringat pertemuan singkat tadi siang. Ini semua seperti mimpi ataukah aku bermimpi?? Sambil memeluk boneka dan tepar di atas kasur aku memutar kembali saat 6 bulan yang lalu , saat aray meninggalkanku, dan pergi begitu saja tanpa kabar. Dan sekarang dia ada disini menemuiku. Aku tak mengerti apa maksudnya
dret.. dret... ponselku bergetar, tanda sms masuk dan ternyata itu dari Aka.
“natasya.. malem.. apa kabar?”
“hei, baik kok Aka.”
“oh gitu syukur deh.”
“besok bisakan dateng kerumah Aka sya?”
Ya Tuhan.. aku lupa besok tanggal 26 adalah hari ulang tahunnya Aka. Untung saja aku sudah menyiapkan kado untuknya jauh-jauh hari.
“okey, besok natasya dateng kok.”
“mau aka jemput?”
“okeh” diakhiri percakapan pendek itu di sms dan akupun tertidur
***

Esok hari,
Jam 10:00 aka sudah sampai di depan pager rumahku. Aku pun pergi kerumahnya di boncengin naik motor satria nya. Di perjalanan dan di pikiranku kosong, entah apa yang aku fikirkan dan akhirnya setelah beberapa menit di perjalanan kita pun sampai di perumahan blok A rumahnya Aka, disana sudah banyak temen-temennya yang berkumpul. Juga sahabat ku putri.
“ka. Ini kado buat kamu.”
“yaampun natasya, pake repot-repot.”
“yaa.. gpp kkok.”
Kado yang aku berikan untuk Aka adalah angsa-angsaan biru hasil karya ku sendiri, juga striminan yang bertulisan namanya dan hari ulang tahunnya
“Heemm ikut aku bentar yuk,” tanganku di gandeng aka ke arah taman komplek dekat rumahnya. Aku tak mengerti apa maksudnya. Terlintas tiba-tiba di fikiranku. Aku lupa kalo aku berjanji akan menjawabnya iya atau tidak untuk menjadi pacarnya.
“heem.. mau ngapain ya ka?” tanyaku terbata-bata aku masih tidak tau harus menjawab iya atau tidak untuk menerimanya.
“adadeh.” Jawab aka
Sesampainya di taman yang indah dan penuh bunga berwarna-warni disana terpampang bunga matahari yang menjulang tinggi juga pohon anggur di sekeliling taman. Di temani teman-teman aka juga putri sahabatku. Karna dialah aku bisa kenal dengan aka, setelah kepergian Arya 6 bulan yang lalu. Di tengah lapangan Aka melepaskan gandengannya.
“natasya, bagaimana dengan jawaban kamu ?”
“jawaban? Jawaban apa?” aku pura-pura tak ingat
“jawaban, apa kamu nerima aku? Atau tidak.”
Jleeeeeeebbbbb................
Ternyata Aka benar menagih janji itu. Aku tak tau kenapa bisa jadi begini. Awalnya aku memang sudah hampir bisa MOVE-ON dari arya, tapi apa? Arya datang kembali di kehidupanku. Menemuiku walaupun itu tidak sengaja bertemu. Tapi apa daya, Aka cowok yang selama ini 6 bulan aku gantungi perasaannya masa iya aku tolak. Cinta diantara dua hati itu tidak mungkin! Aku mencintai arya juga aka..
“natasya, kok diem?” tanya aka
“hah? Iya...apa?” kataku terbata-bata
Temen-temen aka yang menonton dan menyaksikan itu mereka semua menyoraki kita berdua... terima...... terima....... aku bingung saat itu.
“kamu nerima aku atau tidak natasya... aku sayang kamu.” Di raih nya tanganku
Setelah beberapa menit aku berfikir, akhirnya
“iya Aka, Aku terima.”entah apa yang ku fikirkan tak sengaja aku mengucapkan kata-kata itu, terlambat sudah......
Yeeeeyyyy jadiaaaaan sorak mereka tambah ramai. Orang-orang yang ada di area taman bingung karena saat itu teman-temannya aka berisik dan rame. Meskipun saat itu aku malu. Aku memutuskan untuk menerima aka karna aku juga suka sama dia , walaupun aku masih mengharapkan arya untuk menjadi kekasihku. Tapi itu semua tidak mungkin , arya hanyalah mimpi bagiku takkan pernah ku memilikinya.
“makasih natasyaaaa..... ini boneka taddy bear buat kamu”
“iya... makasih yaa aka.”
Aku tak menyangka akhirnya aku jadian juga sama aka, bertepatan dengan ulang tahunnya. Dia memberiku boneka taddy bear berwarna warna pink, Teman-teman aka juga memberi memberi selamat ke kita berdua. Taman itu menjadi saksi cinta kita berdua.
***

Kejadian kemarin telah berlalu. Kini aku sudah menjadi milik orang lain . aku mungkin bisa belajar untuk menyayangi aka, namun mungkin tak sepenuhnya karna aku masih mengharapkan cintanya arya entah sampai kapan.
Baru sehari kami berdua jadian, berita itu sudah menyebar sampai ke kuping teman-temanku terutama arya. Arya sudah mengetahui kalo aku sudah jadian , arya pun syok mendengar kabar tersebut yang datangnya dari eza. Eza adalah sahabatku sekaligus sahabat dan teman curhatnya arya . jadi apapun yang terjadi denganku pasti eza tau, dan bakal lapor ke arya.
Ponselku tiba-tiba berdering , ternyata ada tlp dari ici sahabatku.
“halo?” sapanya
“iya ci, tumben tlp ada apa?” tanyaku
“gpp, Cuma mau mastiin aja.”
“apa?”
“lo beneran jadian sama aka? Cowok yang sering lo ceritain itu ke gue?.”
“iya ci.”
“selamet ya sayang.”
“eh iya makasih.”
“oh iya, arya udah tau lo jadian?”
“udah, sepertinya dari eza.”
“iya, gue juga tau dari si eza . Kirain itu boongan ternyata beneran.”
“iya, itu semua bener. Gue jadian kemaren tanggal 26 pas ulang tahunnya ci.”
“hmmm... lo udah tau kalo arya nyusul jadian setelah lo jadian sama aka?”
“apa..?” Aku tersentak kaget . tak sengaja ponselku ku banting ke arah tempat tidur, dan untungnya tidak ke lantai, ku ambil lagi dan kudengarkan apa yang sebenarnya terjadi.
“halo sya?”
“ya maaf, tadi hp gue jatoh. Gue kaget abisnya.” Jantungku tiba-tiba saja terasa sesak dan sakit entah kenapa , aku tak mengerti
“jadi gini, hari ini arya jadian sya”
Deeeg......serangan itu kembali ada
“gak, gue gak tau? Emang dia hari ini jadian? Sama siapa?
“sama anak sana yang katanya mirip sama lo, namanya evina.”
“evina? Semoga dia bahagia.” Ku akhiri percakapan itu , walau singkat tapi menyakitkan bagiku.
sungguh aku tak percaya, dan hari ini tanggal 27, ternyata hari ini jugalah arya jadian sama pacarnya evina. Aku tak mengerti apa maksudnya aray dengan semua ini. Ataukah evina yang katanya mirip denganku itu Cuma sebagai pelampiasannya saja?ataukah arya bener-benar menyayanginya? Entahlah.
Kini semuanya tlah berakhir, meskipun aku tak mengerti jalan fikirannya arya. Tetapi aku yakin, dihati kecilnya arya meskipun sedikit saja, dia masih menyisihkan tempat untukku dihatinya dan menyimpan namaku dihati kecilnya.. begitupun aku, meskipun aku sudah mempunyai seorang kekasih , dan dialah yang membuatku menyadari. Menunggu itu tidak enak, apalagi orang yang kita tunggu gak pernah mencoba untuk meraih kita.sungguh menyakitkan. Mungkin arya sama sepertiku, menjalani semuanya tetapi tidak apa yang dia inginkan.
***

Tiba-tiba saja ponselku bergetar ternyata tlp masuk .
“halo?natasya?Sya, hari ini arya mau pulang.”
“pulang?” ternyata sms itu berasal dari sari yang juga teman baikku
“iya pulang, padahal dia baru sebentar di jakarta. Malah belom sempet kangen-kangenan kan sama lo? Eh tapi gak deh lo berdua kan udah sama-sama punya pacar. Tapi gue sih yakin pasti lo berdua masi saling ngarepin iya kan?”
“gak usah nyindir gitu deh sar.”
“haha.. iya maaf” sari tertawa pelan
“oh iya , lo tlp gue Cuma mau ngasi tau kalo dia pulang?’’
“yaa.. gue sedih banget dia hars pulang dan katanya gak akan balik lagi.”
Deeegggg........... tiba-tiba saja air mataku mulai jatuh perlahan setelah mendengar kabar itu dadaku terasa sesak dan saat ini sulit untuk bernafas
“syaa?” panggilnya
“natasya? Lo gak apa-apa kan? Diem aja?”
‘’eh iya sorry apa tadi yang lo bilang, gue gak denger.”
“arya mau pindah dan tinggal di lampung selama 3 tahun. Dia gak akan balik lagi dan pastinya rumahnya yang disini mau di kontrakin.”
“apa?”
“iya bener, eh udah dulu yaa byee..
Sari mengakhiri percakapannya , aku tak mengerti dengan semua ini.. lagi-lagi arya pergi dan ninggalin aku untuk kedua kalinya, tapi ini berbeda dia gak akan kembali. Ini semua tak mungkin. Ku putar lagu pasto aku pasti kembali, dan lagu itu yang menjadi lagu kita berdua dulu. Teringat aku dan arya sering menyanyikan lagu itu berdua.. di pekarangan sekolah sambil memainkan gitar
Reff : aku hanya pergi tuk sementara..
bukan tuk meninggalkanmu selamanya..
aku pasti kan kembali, pada dirimu.. tapi kau jangan nakal, aku pasti kembali..
aku pasti kembali.........
***

Pukul 06.00 pagi,
Aku terbangun dari tidurku, aku tak bisa berhenti menangis tadi malam, mungkin sebabnya mataku sembab dan layu seperti ini. aku tak mengerti mengapa aku menangisinya. Aku tak mengerti apa yang ku tangisi. Cintanya? Ataukah karna arya yang ingin pergi? Entahlah..aku tak mengerti..Seharusnya aku seneng arya pergi dan gak akan kembali lagi, tapi apa nyatanya? Aku malah seperti ini, seharusnya aku sadar aku sudah mempunyai seseorang kekasih begitupun arya.... Aku juga tak mengerti perasaanku gelisah tadi malam, tadi malam aku juga melihat arya tapi aku , aku tak ingat dia ada di mimpiku? Atau dia datang tadi malam. Yang ku ingat dia datang memakai baju putih dan dia tersenyum padaku, dia memegang tanganku dan berbisik. Jangan sedih, karna arya akan selalu ada dihati kamu. Dan kamu selalu ada di hati arya.. mungkin arya gak akan pernah kembali.
Dret..dret.. hp ku berdering, ternyata ada tlp dari eza aku pun cepat-cepat mengangkatnya..
“sya, udah bangun??’’
“ada apa?gue baru aja bangun.”
“lo udah tau kan arya pergi?”
“iya , gue udah tau dari sari dia yang ngasih tau gue kemaren malem.”
“suara lo kenapa?”
Mungkin suaraku begini adalah efek tangisanku tadi malam , aku tak bisa tidur.. hanya arya yang aku fikirkan tadi malam.
“hah? Suara gue? Gpp, gue lagi sakit tenggorokan biasalah radang.
“bohong, lo pasti abis nangis ya?”
“enggak.” Aku memang berbohong sama eza, karna aku tak ingin kawatir.
“ada apa tlp gue pagi-bagi begini? Tumben?’
“iya, gawat sya penting gawat. Arya barusan aja masuk rumah sakit.”
“apaaa?” aku tersentak kaget dan mataku kini sudah tak mengantuk lagi
“iya udeh lo cepetan mandi. Cepet nanti lo gue anter kerumah sakit gue jemput.”
Aku segera mengakhiri tlp, aku bergegas untuk mandi. Dan setelah aku selesai mandi, dan siap untuk berangkat , tiba-tiba saja terdengar bunyi motor depan pagar rumahku, ku lihat dari jendela ternyata itu eza, aku cepat keluar dan pamit tidak sempet sarapan pagi
“za, ceritain ke gue plis.”
“udah cepet naik , nanti gue ceritaiin di jalan.”
Aku segera naik dan meninggalkan rumah. Aku pergi dengan hati yang cemas, selama di perjalanan aku hanya diam dan diam.
‘’sya, jangan diem aja .”
“jelas aja gue diem.”
‘‘ini adalah bukti kalo lo masih sayang banget sama arya, iya kan?”
“gak. Gue Cuma khawatir” kataku ngeles
“Khawatir? Kalo lo Cuma kawatir, gak akan lo mau pagi-pagi kaya gini disuru kerumah sakit buat liat keadaan arya, padahal lo sendiri udah punya cowok. Tapi lo sendiri malah ngawatirin arya di banding cowok lo”
“jelasin ke gue kenapa arya?”
Hening........ aku tak mengerti kenapa suasana menjadi hening.. keadaan pagi yang dingin ini menusuk tubuhku
“eza?’’ panggilku
“eza, arya kenapa?’’ panggilku sekali lagi cemas
“dia... dia.. “
“dia? Dia kenapa zaa.”
Eza tak juga menjawabnya, setelah setengah jam di perjalanan, tak terasa kita sudah sampai dirumah sakit. Setelah eza memarkirkan motornya, aku dan eza langsung pergi menuju ruang kamar tempat arya dirawat. Aku dan eza melihat teman-temanku sudah rame dan berkumpul di ruang kamar arya, aku tak mngerti mereka semua menangis sampai isek-isekan. Apa yang terjadi? Aku tak mengerti . tiba-tiba saja ditengah kerumunan mereka yang sedang menangis, aku melihat seseorang memakai baju putih keluar dari arah pintu kamar rumah sakit tempat arya dirawat. Aku diam dan tak menghampiri seseorang itu. Ku lihat eza sudah tidak ada disampingku. Aku seperti mengenalnya, wajahnya pucat, lesu, dan dia tersenyum kepadaku. Dia itu arya? Apa dia itu arya? Dia tersenyum padaku? Tapi aku heran mengapa mereka semua masih menangis? Sedangkan arya? Dia baru saja kluar dari arah pintu dan tersenyum padaku.... tiba-tiba saja saat aku ingin menghampiri seseorang itu, seseorang itu hilang? Hilaaaang????? Iya, tiba-tiba saja hilang. Aku tak mengerti kemana bayangan itu pergi.
“natasyaaaa..... “ tiba-tiba ici menghampiriku dan memelukku
“ada apa? kok lo nangis?” tanyaku heran, ici masih saja menangis di pelukanku
“arya syaaa... arya.....gue gk percaya dengan semua ini, padahal waktu kemaren kita abis ngmpul bareng.. gue gsk percaya!”
“arya kenapa? Dia baik-baik ajakan? Barusan gue liat dia keluar kamar dan dia senyum sama gue, tapi anehnya dia langsung pergi dan hilang gitu aja pas gue mau nyamperin dia.. yaa.. barusan .” kataku polos tak mengerti
“apa? “ ici menatapku
“iya seius gue gak boong tuh barusan dia kesana” aku menunjukkan ke arah bayangan itu pergi
“arya itu udah gak ada natasya, dia pergi ninggalin kita semua.. bukan untuk pergi dan tinggal di lampung, tetapi dia pergi untuk selamanya.”
“gue gak ngerti, jelas-jelas gue barusan liat dia.”
“ikut gue,” di tariknya tanganku masuk ruang kamar arya
“lihat,dia udah gak ada, gue gak sanggup dengan semua ini.”
“aryaaaaa... aku menghampiri arya yang terbaring lemas dan kaku, juga pucat dan tangannya begitu dingin.”
“arya, bilang ke gue kalo ini gak bener. Aryaaa buka mata lo, bilang kalo ini gak bener. Kenapa lo gak mau buka mata lo , aryaaa plis.” Aku tak bisa menahan tangis
“arya, plissss arya gue mohon, jangan ninggalin natasya dengan cara seperti ini natasya gamau ditinggal arya, natasya sayang banget sama arya. Arya bilang, kalo ini bohong, tangan arya dingin banget, arya sakit? Arya kedinginan? Tadi arya baru aja senyum ke natasya aryaaa bangun.”
Saat itu aku tak bisa menahan tangis, tangan arya saat itu dingin banget semua itu bisa ku rasakan. Tetapi dokter langsung membawanya, ku lihat terakhir kali arya tersenyum padaku, ini mimpi? Katakan ini mimpi padaku.
“natasya?’’ seseorang menarik tanganku, entah itu siapa dia langsung memelukku
“ikhlasin dia natasya, dia udah gak ada jangan menangis terus, ikhlasin dia.”
Aku tak bisa menahan tangis, aku sekarang rapuh, aku tak bisa apa-apa dengan kenyataan pahit ini. batinku
“ikhlasin dia natasya, ini semua demi kebaikannya.” Aku masih terhanyut dalam susana dan juga didalam pelukan seseorang itu, ketika aku membuka mata ternyata seseorang itu adalah aka, pacarku yang juga ada disana.. menyaksikan itu semua
“ayok kita keluar, aka jelasin semuanya.”
Teman-temanku masih saja menangis, dan juga ku lihat eza sepertinya dia juga sangat terpukul. Aku mengerti perasaan eza, dan juga teman-temanku semuanya.
Ternyata, aka membawaku ke kursi taman belakang rumah sakit.
“aka udah denger semuanya sayang.”
“maafin natasya, maafin natasya.” Kataku pelan
“gk usah minta maaf, justru aka yang minta maaf sama kamu. Mungkin kalo kamu denger ini semua kamu nantinya bakalan benci dan marah sama aka, pacar kamu.”
“kenapa kamu ngomong gitu?” tanyaku tak mengerti
“kamu tau? Kamu ingat 6 bulan yang lalu pas arya pergi ninggalin kamu tanpa pamit?”
“iya aku ingat?”
“dia itu pergi ninggalin kamu karna dia sakit, bukan karna dia sekolah di pesantren juga. Dia Cuma nyari alesan yang masuk akal.Selama itu dia pergi untuk berobat kesana-sini. Tapi itu semua gagal. Pengobatan itu sempat berhasil, tetapi tidak berlangsung lama.”
Hening..... aka melanjutkan ceritanya
“selama dia pergi untuk tinggal di lampung, dia bilang kalo dia pindah ke pesantren.. padahal tidak sayang.. dia pergi bersama orang tuanya untuk berobat. Dia punya penyakit jantung. Kemaren pas kamu main sama dia sama teman-teman kamu ,mungkin saat itu keadaan arya sudah pulih tetapi , arya drop dan harus pulang dan pindah ke lampung selama 3 tahun untuk menjalani pengobatan. Orang tuanya arya terpaksa pindah kesana, karna tidak mungkin bolak-balik dengan kondisi arya seperti itu lampung-jakarta itu lumayan jauh.”
“selamaya 6 bulan, arya menitipkan kamu ke aku. Karna aku sahabat baik arya sejak kecil. Hanya aku yang tau tentang penyakitnya,selain keluarganya sel. Maafkan aku, natasya... seharusnya dari awal aku jujur sama kamu. Pas kita jadian tanggal 26 kemarin, arya mengetahui kabar itu. Awalnya aku gak enak sama dia, tapi aku bener-bener sayang dan tulus sama kamu itu semua aku lakuin untuk ngejagain kamu. Pas arya tau kita jadian, dia pesen sama aku , supaya kamu suatu saat nanti dia udah gak ada, kamu harus bisa ngikhlasin dia. Ini semua demi kebaikannya natasya.ini semua udah ada yang ngatur”
“Tadi aku juga menemaninya sbelum ajal menjemputnya. Dia berpesan padaku sayang, katanya dia minta maaf sama kamu dan teman-teman kamu juga. Karna dia gak mau buat kamu sedih juga semuanya. Tadi aku juga udah cerita ke semua teman-teman kamu dan tadi aku suruh eza jemput kamu. Maafin aku terlambat ngasih tau kamu.”
Tangisku semakin tak terkendali, aku tk bisa menahan semuanyaa.... ini semua telah berakhir, dan akupun kini harus membuka hatiku untuk orang lain
“ aku gak marah sama kamu, aku juga ngerti kalo misalnya aku ada di posisi kamu saat itu. Aku ikhlasin , walaupun aku masih sakit dan sangat terpukul.”
“ya, seharusnya kamu bersikap seperti itu sayang, itu semua udah tuhan yang atur. Kita sebagai umatnya hanya bisa sabar, ikhlas, dan menerima.”


Tuhan... jika ini semua sudah menjadi jalan takdirku,aku ikhlas Tuhan...
Tabahkan aku , berilah tempat yang nyaman disana buat Arya Tuhan...
Sayangi dia, dan meskipun Arya sudah tidak ada di dunia ini. tapi aku masih tetap menyayanginya... sampai nanti ku menutup mata...

SELESAI

Cerpen Cinta Remaja: MOVE ON!

MOVE ON !
Oleh: Lelie Liana

Kriiinggg “Halloo..“

... “Hallo, bisa bicara dengan Jenny?”

... “Hallo, ini Bobby, bisa bicara dengan Jenny?”

... Klekkk! Tuttt tutt tuttt

Pagi itu mendadak muka Jenny masam semasam-masamnya yang dia bisa. Dina aja sampe bingung ada apa gerangan.

“Kenapa loe Jen?“

“Ga kenapa – kenapa“

“Yakin loe? Loe mandi kan pagi ini ?”

“Apa – apaan sih loe Din? Ya iyalah gue mandi!“

“Ups sorry, abisnya muka loe kusut banget. Kenapa sih?“

"Daripada loe ngurusin urusan gue mending loe urusin deh PR dari Pak Burhan.“

“Hah?? Emang ada PR ya?“

“Ada, halaman 204 bagian C dan D, essay semua tuh, 15 menit lagi masuk.“

Jenny berjalan melenggang melewati Dina, sementara Dina langsung ngacir menuju kelas.
Teetttt tettt tettttttt, bel masuk. Jenny yang pagi – pagi udah galau aja di kantin langsung menuju kelas. Di kelas dilihatnya muka Dina menekuk kesel.

“Jen loe usil banget sih. Tega – teganya loe ngerjain gue. Dengan susah payah gue ngerjain tuh soal, untung si Budi bilang nggak ada PR, jahat loe!“

“Lagian loe suka banget ngabisin waktu loe buat urusin urusan orang lain.“

“Yaaa sorry, abisnya gue kesel aja liat muka loe. Pagi – pagi udah kusut banget persis orang seminggu ga mandi.“

“Gue lagi galau.“

“What?? Masih labil ya loe.“ Dina cengengesan.

“Hellooo Din, wajar dong gue labil. Umur gue aja belom 20 tahun. Sepupu gue noh, udah 21 masih aja suka galau and labil. Loe jangan mojokin gue dong. Kayak loe ga pernah galau aja.“

“Iya iya, sorry. Sensitiv banget sih loe. Galau kenapa loe? Bobby lagi?”

“Iya. Tadi pagi dia nelpon gue. Sulit Din buat lupain dia, meskipun dia udah ga satu tempat lagi sama gue, tetep aja gue masih sakit hati nginget dia. Denger suaranya aja bikin nyeri uloe hati gue Din.“

“Hmmm, kayaknya loe perloe ke psikolog deh Jen, masa loe masih beloem bisa loepain orang yang udah nyakitin loe, udah ninggalin loe, udah ga mikirin loe lagi, dan yang pastinya udah jauh banget dari loe. Ayolah Jen, itu udah setahun yang lalu, masa sih loe ga bisa lupain dia.“

“Din, loe ga ngerti karna loe ga di posisi gue. Coba kalo loe di posisi gue. Susah Din.“

“Hmmm, bukannya gue sok ngajarin sih Jen, tapi loe cantik, dan banyak yang suka sama loe, masa sih loe mau dan masih menyia – nyiakan waktu yang loe punya cuman buat orang yang hanya sepintas di hisup loe. Jen, dengerin gue ya, semua orang pasti pernah sakit hati, semua orang pasti pernah galau, tapi ga semua orang bisa mengatasinya Jen. Masa depan ...”

“Udah ah Din, gue ngomong sama loe juga kayanya percuma.“

“Ok Jen, maybe loe cuman butuh waktu.“ Dina balik lagi fokus ke bukunya, dan menghentikan bisik – bisik dengan Jenny. Sementara Jenny pura – pura dengerin Pak Burhan yang sejak jam pertama tadi sebenernya Jenny ga ngerti membahas tentang apa. Beruntung hari ini Dina dan Jenny duduk di kursi paling belakang, jadi kecil kemungkinan ketahuan Pak Burhan kalo mereka lagi ngobrol bisik – bisik.

Kalo dipikir – pikir Dina bener banget ya. Masa gue mau galau terus. Tapi sulit banget buat ngelupain Bobby. Hmmm, ntar istirahat gue tanya Igha deh, kayaknya dia lebih tau.

“Jen!!!!“

“Dina! Loe bisa nggak sih klo ga usah teriak – teriak gitu?“

“hehe, loe gue panggil daritadi ga nyahut“

“loh? Pak Burhan mana Din?“

“Bel istirahat udah daritadi nonaaaa, yok kantin yok, gue laper nih“

“ehhhmm, loe duluan aja deh, gue mau ke kelasnya Igha dulu“

“yakin loe? sekalian cuci tuh muka, kusut banget...“

“Iya iya! ngeselin banget loe“

Dina melenggang, sementara Jenny langsung menuju ke kelasnya Igha.

“Dina bener banget Jen, loe harusnya mulai ngebuka hati loe. Gue bingung, kerjaan loe setahun ini galau mulu, kapan loe move on nya? Ingat Jen bentar lagi kita ujian, lulus, kuliah, trus misah deh. Masa loe mau terus – terusan jomblo en galau, sementara banyak cowok cakep yang ngantri mau jadi pacar loe. Contoh tuh kak Andre udah cakep, pinter, lulusan terbaik lagi. Udah gitu pacaran sama cewek terpintar di angkatannya. Ayo dong Jen move on. Lagian elo ga bisa juga kan balikin Bobby buat jadi milik loe lagi. Gue saranin deh, buka kembali otak loe tuh, buang jauh – jauh Bobby. Lama – lama gue juga kesel denger tentang tuh cowok“ Igha bernasihat panjang lebar.

Jenny terdiam. Sampai pelajaran berakhir, entah ada angin apa, kali ini dia udah ngerasa terbuka otaknya. Dina bener, dia ga mungkin terus – terusan menyesali dan menginginkan waktu kembali lagi. Begitu banyak, bahkan ribuan menit dan detik ia habiskan utnuk memikirkan Bobby yang bahkan Jenny pun ga pernah tau kabarnya lagi. Jenny juga udah bosan dengan semua kegalauannya. Jenny udah bosan bertahan dengan semua sakit hatinya. Lama – lama bisa tua dari umur gue kalo sedih terus. Igha dan Dina bener. Hidup gue masih panjang. Mungkin Bobby salah satu orang yang dititipkan sebentar untuk memberi warna di hidup gue. Gue harus berhenti.

Malamnya Jenny membuang semua yang berhubungan dengan Bobby. Semua kontak dan barang – barang yang ingetin dia sama Bobby. Semua foto – foto dia sama Bobby, dia hapus permanent dari semua gadgetnya. Tak terkecuali semua foto print out yang tertempel di dinding kamarnya. SEMUA. Semua kenangan liburan di Bali, foto – foto pas ulang tahun Jenny Bobby kasih surprise, dan yang paling nyakitin, foto – foto Bobby bersama Jenny, Kak Andre, pacarnya kak Andre, Mamah, dan Papah. Semakin Jenny ngeliatin foto – foto itu semakin nyeri di hati Jenny. Dia sangat menyadari, bahkan sesadar – sadarnya. Bobby tetap tersimpan dihatinya, entah sampai kapan. Tapi semakin yakin juga Jenny bahwa semuanya ga akan kembali, seperti kata Dina, Jenny harus bisa mengatasi sakit hatinya.

Setelah semua barang – barang itu terkunci rapat di peti, Jenny memasukkan peti tiu ke gudang. Jenny membuka laptopnya lagi, membuka semua catatannya selama setahun. Jenny membuka document baru, disana ia mengetik.

“Jika aku menyayangimu, itu bukan sepenuhnya salahmu. Tapi itu salahku yang tak pernah mengerti bahwa waktu bisa merubah segalanya. Jika aku tetap menyayangimu, itu juga bukan sepenuhnya salahmu, itu hanya salahku yang tak bisa mengerti keadaan. Hanya saja, ternyata waktu kemudia mampu membuatku mengerti keadaan. Beribu waktu, menit, jam, bahkan tak terhitung hari kuhahabiskan pikiran dan sedihku untuk mencintaimu. Aku tak pernah berhenti, hanya saja aku beristirahat , mencoba lebih memahami waktu.“

Even you are not be the part of me anymore, I am the lucky one that had have you in my life. I have to move on even my heart stil doesn’t understand what my mind’s sugestion. You are the colors of my life that gave me a pain part and beautiful part. Thats why I have to move on. 

Jenny turn off laptopnya, mencoba memejamkan mata. Berharap besok akan ada waktu untuknya menebus kembali waktu yang terbuang.
*****

Email : Leelieliana@yahoo.co.id
Twitter : @lelieliana
Fb : Lelie Liana
Baca juga cerpen karya Lelie Luana yang lain dalam Jarak dan Kita serta Damaiku Bersamamu, Flora.

Cerpen Cinta Remaja: CINTAKU UNTUKNYA

CINTAKU UNTUKNYA
Cerpen oleh: Rina Natalia

“Wanda gwa pengen ketemu ma elo jam 14.00 siang ini di taman deket sekolah,deket air mancur ya!.
By sesil”

Sebuah tulisan dalam kertas yang di tempel di sebuah mading sekolah menengah atas.

Cerpen Cinta Remaja
“Wan ,elo punya masalah apa ma sesil ?” Tanya seorang pria berseragam yang baru masuk ke ruang kelas.
“kagak ,emang kenapa ?”Tanya wanda bingung.
“Sesil ngajakin elo ketemuan siang ini juga dan yang paling parah lagi ajakan itu di  tulis di mading”.
“Masa sih ?”.Wanda terlihat cuek.
“Ya udah elo liat aja”. Wanda pun beranjak dari bangkunya dan pergi menuju mading sekolah bersama tian temanya itu, tak ama kemudian merekapun sampai di depan mading sekolah yang telah dikerumi oleh murid murid.Wanda merasa heran dan dia pun mengeluarkan sebuah phonsel dari dalam kantong celananya.
“Non kamu lagi ma sesil gak” ? ( isi pesan singkat yang ditujukan kepada noni teman satu sekolahnya ,noni juga adalah teman baik sesil).
              Di sisi lain sesil ,noni , lulu, mia sedang berkumpul. Tiba tiba ponsel noni berbunyi dan di ambilah ponselnya dari dalam tas dan terlihat di layar ponsel tertulis pesan dari wanda, noni tak menghiraukan pesan dari wanda dan menaruh kembali hpnya kedalam tas.
“sms dari siapa non ? kok gak di bales ?.”Tanya sesil pada noni.
“Adik gwa minta di beliin coklat pulang nanti!”.Jawab sesil terlihat sedikit grogi karena telah brebohong.
“Sil elo serius mau nembak wanda ?”. Tanya lulu.
“Ya iya lah ,soalnya gwa bener bener suka ma dia”.
“Emangnya elo gak malu apa ?”.Mia ikut ikutan berbicara sedangkan noni terlihat lesu.
“Kenapa harus malu ?”. jawab sesil enteng sambil tersenyum bahagia.
“Gimana kalo elo di tolak ? secara ,dia tu kan bisa di bilang cowok terkeren di sekolah kita ini!”. Tanya lulu kembali.
“Gak tau !”.Jawab sesil pelan dan terlihat sedikit melemah.
“Bener tu gimana kalo elo di tolak mentah mentah ! elo tu selalu nekat ya !”.Ceplos mia.Noni masih terlihat diam.
“Ah, kenapa kalian pada ngomong gitu !”.Sesil terlihat lesu.
“eh sory, gwa gak maksud ngomong gitu”. Sahut mia sambil menempelkan tangan nya di mulut.
“Non ko diem aja ? Apa pendapat elo dengan tindakan konyol sesil?”.Tanya mia pada noni yang masih diam.
“Aku gak punya pendapat apa apa, buat aku selama tindakan sesil bisa buat dia bahagia aku akan setuju aja”. Jawab noni sambil sedikit tersenyum. 
“I love you noni!”.teriak sesil pada noni dengan raut wajah gembira.
Noni tersenyum .Noni mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya dan tiba tiba membalas pesan singkat dari wanda.
“Tolong jaga perasaan sesil”.( Pesan yang di kirim pada wanda).
              Orang orang yang mengerumuni mading terllihat sudah pergi dan hanya ada wanda dan tian saja. Pesan dari noni telah di terima wanda. Wanda langsung mengambil ponselnya dan langsung membukanya. Wajah wanda terlihat bingung setelah menerima pesan dari noni lalu di balasnya kembali pesan tersebut.
“Apa maksudnya non ?”isi pesan wanda pada noni.
Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi nyaring,
“Cabut yuk ian!”.ajak wanda pada tian sembari menunggu balasan pesan dari noni). Wanda dan tian mulai pergi menuju ruang kelasnya. Wanda masih menunggu balasan pesan dari noni yang sampai kegiatan belajar  masih juga belum ada balasan.
             Setelah cukup lama berada di ruang kelas bel istirahat berbunyi para murid pergi untuk istirahat begitu pula wanda, tian ,sesil, noni, mia dan lulu.
“Guys kita istirahat di samping lapang olah raga aja ya!”.ajak sesil kepada temanya.
“Kayak biasa ke kantin dulukan “.Ucap lulu sambil melihat wajah sesil.
“Ya ia lah kaya biasa aja”.Jawab sesil sambil pergi meninggalkan ruang kelasnya.
“Sil gwa mau ke toilet dulu ,kalian duluan aja ya !”.Ucap noni sambil pergi meninggalkanmereka.
“Jangan lama lama ya!”.teriak sesil pada noni. Noni menoleh sambil mengacungkan jempol tangan nya.
               Merekapun be pisah ,noni pergi ke toilet sedangkan yang lainnya pergi ke kantin untuk membeli beberapa makanan. Sepulang dari toilet noni bertemu wanda tapi noni pura pura tak melihatnya, wanda teriak memanggil  nama noni tapi noni tak menghiraukanya. Wanda berlari mengejar noni dan nonipun terkejarnya.
“hei kenapa gak nunggu aku padahal dari tai aku teriak teriak manggil nama kamu”. ucap wanda sambil tersenyum.
“sory gwa gak denger!”.  jawab sesil judes sambil pergi. Wanda menghalau noni untuk pergi.
“ Kenapa sih ,kamu kok berubah banget semenjak aku pindah sekolah ke ini”.
               Noni masih berusaha pergi meninggalkan wanda dan tak menghiraukan pertanyaannya. Wanda memegang tangan noni dan menariknya pergi.
“Loe mau bawa gwa kemana wan?”. Tanya noni sambil berusaha melapaskan tanganya dari cengkraman wanda.
“Gwa pengen ngomong sesuatu sama elo  tapi gak di sini”.
“Kenapa berubah?, kenapa dia manggil gwa dengan kata lo padahal biasanya kamu !”.Ucap noni dalam hati.
“Ya tapi gak usah tarik tarik segala dong!”
               Wanda tak menghiraukan ucapan noni sampai akhirnya mereka sampai di suatu tempat yang tak banyak di kunjungi murid murid. Wanda masih memegang tangan noni.
“Lo mau ngomong apa?”. Teriak noni pada wanda.
               Wanda menatap wajah noni dan masih memegang tannganya.”lo kenapa ? “.Tanya wanda sambil melepaskan cengkraman tanganya.
“kenapa apanya maksud lo ?”. Tanya noni pura pura tak mengerti sambil mengelus elus tanganya.
“Kenapa semenjak gwa pindah sekolah ke sini lo berubah ,lo susah banget di hubungi ,gwa juga susah ketemu ama lo, kenapa lo ngindar terus dari gwa dan yang paling bikin gwa sakit hati kenapa lo tiba tiba mutusin hubungan kita tanpa sebab kalau gwa punya salah tolong ngomong non ?”.Tanya wanda seewot.
               Noni terdiam dan menundukan kepalanya.”kenapa tiba tiba gwa pengen nangis kaya gini”.ucap noni dalam hati.
“Non tolong jawab pertanyaan gwa “.
“Gwa kan udah bilang gwa udah gak suka lagi ma lo!”.jawab noni sambil menahan tangisan.
“Tapi kenapa tiba tiba gitu, kalau gwa punya salah yang udah bener bener nyakitin hati lo gwa minta maaf”.
“kalau kamu ingin tahu sebenernya aku masih sayang makamu tapi sekarang aku gak bisa kaena sesil juga suka ma kamudan aku bingung wan, aku sayang ma kamu tapi aku juga gak mau ngeliat sesil sedih”. kata noni dalam hati.
“Kenapa lo diem aja ? lo masih sayangkan ma gwa ,non !”
Noni menarik napas panjang.”Gwa suka ma cowok lain”.
Deg ..!,Wanda terlihat kaget dan terdiam sejenak mendengar jawaban noni.”o....! jadi karena itu”. Mata wanda terlihat memerah menahan tangisan.
“Ya ,ekarang lo puas !”.Kata noni yang langsung pergi meninggalkan wanda sambil mengeluarkan air mata yang dari tadi ingin di keuarkanya.
Wanda masih terlihat kaget dan masih diam.
              Noni berlari menuju lapang olah raga sambil mengelap air matanya.
“Itu noni!”. Ucap lulu sambil menunjuk ke arah noni.
“Non ko lama banget ke airnya, jangan jangan lo tidur ya ?”. Ucap mia jail.
Noni hanya tersenyum.,sesil memperhatikan wajah noni,
“Kamu habis nangis ya non?”. Ceplos sesil dan yanng lain pun langsung menatap wajah noni.
“Kagak, emang keliatan abis nangis gitu ?”.Kata noni seperti yang tak terjadi apa apa
“ya,soalnya mata loe keliatan merah sih!”. Ucap sesil .
“Tadi gwa kelilipan jadinya mata gwa merah kayak gini”. Kata noni sambil tersenyum.
“o.........!”.Kata sesil singkat, dan merekapun langsug melanjutkan perbincangannya tanpa menghiraukan kembali mata noni. Beberapa menit kemudian noni bertanya pada sesil.
“Sil lo bener bener suka ya sama wanda ?”.Tanya noni pelan.
“Yups, gwa suka pada pandangan pertama,”. Jawab sesil sambil tertawa kecil,
“O.........!
“Kenapa ?”
“Gak kenapa napa ko!”.Ucap noni sambil tersenyum.
“Loh kok ?”.Sesil terlihat bingung. Cukup lama mereka biristirahat bel masuk telah berbunyi.
“Bel udah bunyi tuh, masuk yuk !”. ucap noni .
              Mereka pun pergi menuju kelasnya, Sesil terlihat bahagia sedangkan noni terlihat murung dan semangat belajarnya menghilang.
              13.45 tandanya kegiatan belajar telah selesai dan murid muridpun berhamburan keluar sekolah untuk pulang kerumahnya masing masing.
“Gwa deg degan”. Ucap sesil sambil memasukan buku pelajaran ke dalam tasnya.
“Semangat sesil”. Ucap mia .
“Kita bakalan nemeni lo ko ya kan non!”. Kata lulu sambil melihat noni yang hanya tersenyum melihatnya.
“Apa yang harus aku lakukan ?”. ucap noni dalam hati.
“Ya udah kita langsung ketaman aja !”. Ajak lulu pada sesil dan yang lainya, dan merekapun langsung pergi ,karena jaraknya tak terlalu jauh merekapun telah sampai di taman.
“Guys gwa rapi gak ? Gwa grogi ni !”. Ucap sesil yang tak bisa diam.
“Sip, tenang aja kita bakalan ada nemeni lo,”.ucap mia menenangkan sesil.
“Eh wanda udah dateng tuh”.Ucap lulu dan pandangan merekapun menuju wanda begitupula pandangan noni.
“Ya tuhan kuatkan hati hamba!”kata noni dalam hati.
“Sil bururan pergi!”. kata lulu sambil mendorong sesil.
Sesilpun pergi menemui wanda, dan akhirnya mereka berdua bertemu.
“Hai wan ?”.Ucap noni mendahului pembicaraan.
Wanda tersenyum jutek,”Lo mau ngomong apa ma gwa?”. Ucap wanda sambil melihat keadaan sekitar ,secara tidak di sengaja wanda melihat noni dan yang lain sedang memperhatikan mereka di dekat semak semak yang jaraknya tak jauh dari air mancur. Noni dan yang lainya terlihat kaget dan merekapun bersembunyi kecuali noni yang masih kaget tapi lulu langsung menarik noni untuk bersembunyi.
“Kenapa wan ?”.Tanya sesil.
“Ah gak apa apa”. Jawab wanda sambil tersenyum dan tiba tiba sikap wanda menjadi berubah yang tadinya jutek sekarang jadi ramah.”Tadi lo mau ngomong apa ya ?”.Tanya wanda sambil trsenyum pada sesil.
“wanda ganteng banget pa lagi kalo senyum!” ucap sesil dalam hati.
“Hei, ko ngelamun gitu?” ucap wanda sambil melambaikan tangannya di depan wajah sesil.
“O ...!, sory sory, ini gwa, emmmm !!!!!”
“Gwa suka ama lo !”.Ucap wanda tanpa basa basi.
Sesil terkaget,”Serius lo suka ama gwa !
“Ya!”Ucap wanda singkat yang langsung memeluk sesil.”Noni maafin gwa tapi gwa juga gak mau sakit ati Cuma gara gara lo!”.ucap wanda dalam hati.
               Di sebrang sana terlihat mia, lulu bahagia sedangkan noni terlihat sedih.
“Sesil di peluk !”.Kata lulu gembira pada mia.
“kenapa gwa jadi lemes gini ! kenapa tulang di kaki gwa terasa hilang,kenapa mata gwa jadi terasa panas gini, kenapa ???”.ucap noni dalam hati dengan keadaan mata yang berkaca kaca. Tiba tiba noni berlari meninggalkan mereka,
“Lu noni mau kemana tu ?”.Tanya mia pada lulu.
“Ya mana gwa tau!”.
“Kejar yuk “.Ajak mia yang langsung lari mengejar noni laludi ikuti lulu.
“Noni kemana mi?”.Tanya lulu sambil melihat keadaan sekitar mencari cari noni.
“Gak tau, gwa sms aja ya !”.Saat mia mengambil ponsel dari dalam tasnya tiba tiba ponselnya berbunyi dan di lihat noni mengirimkan pesan.
“mi, sory gwa pulang duluan coz gwa sakit perut.”
“ok gak apa apa ko.”nanti gwa kesana y.
“Noni pulang duluan katanya dia sakkit perut”.Ucap mia.
“ko lo tau ?”.
“Barusan dia sms gwa.”
“O.....! tinggal kita berdua dong !,makan yuk gwa laper ni.”
“Ok  !!!”.
              Di tempat yang berbeda noni sedang menangis sambil duduk lemas.
“kenapa hati ini sakit, padahal seharusnya gwa senenng dengan semuanya, kenapa, kenapa ?”.Noni menaik napas panjang sambil mengelap air mata yang tak henti mangalir di matanya.
“Noni , sebentar lagi lo ujian dan setelah lulus lo bisa pergi keluar kota dan tak  melihat mereka lagi, tenang dan terus semangat”. Ucap noni sambil menyemangati dirinya sendiri.
*****

Read more: http://cerpen.gen22.net/2012/04/cerpen-cinta-remaja-cintaku-untuknya.html#ixzz293L3EggU

Jangan Ulang Hari Itu

Karya Aiegustin Diansari Pranoto - “Saatnya untuk bangun, sekarang jam 05.00 tepat, waktunya untuk bangun !” Suara yang begitu nyaring terdengar dari jam weker yang terletak disebelah telingaku. Terbangun aku dari tidur yang nyenyak, hujan yang turun semalam masih meninggalkan hawa dingin yang membuatku enggan untuk melepas selimut. Satu hal yang menguatkanku untuk bangun hari ini. “Dia” yaah, cowok berpostur tinggi, hidung mancung, alis tebal, dengan setelan jaket biru yang biasa ia kenakan, yang selalu menjeputku di depan gang setiap pagi. Siapa lagi kalau bukan Kian Al-Farabi, pangeran tampan setampan romeo dan aku julietnya. Hahaha jelas saja aku berkata seperti itu, sebab cowo cuek yang gak romantic itu adalah pacarku. Tak ada satupun yang boleh mengejek pacar Iris Tantia, karena bagaimanapun aku sayang padanya.

Setelah semuanya siap, seperti biasanya pukul 06.30 pagi. Aku sudah harus stand by di depan gang. Karena dia gak suka yang namanya nunggu, jadi aku harus buru-buru tiap paginya. Setelah 10 menit menunggu.

“Eh ayok !!!” ujar Kian menghampiriku.

“Aaah…iya sabar.” Jawabku sambil tersenyum lebar.

Seperti biasanya aku langsung naik dan memegang erat jaket birunya itu. Aku dan dia selalu saja ngobrol disepanjang jalan, ntah apa-apa saja yang kami obrolkan akupun tidak tau, yang pasti bahan pembicaraan kami tidak ada habis-habisnya. Tapi hari ini aku heran, dia hanya diam saja dan berbicara seperlunya.

“Kamu kenapa sih?” tanyaku penasaran.

“Aku, gak kenapa-kenapa kok.” Jawabnya singkat.

“Ih, kamu kok diem aja daritadi?” ujarku

“Ya engga, aku cuman capek aja,” dijawabnya lagi dengan ekspresi datar.

Seperti biasa dia memarkirkan motornya paling depan. Setelah itu, kami jalan berdua menuju kelas masing-masing. Yaaah, aku dan dia beda kelas. Dia kelas XG sedangkan aku XE. Setelah 8 jam berada di sekolah, bell pun berdering kencang “kriiing..kriiing..kriing..” semua anak berhamburan keluar. Kurasakan hp di saku rokku bergetar, sudah kutebak pasti itu Kian. Sebuah pesan ingkat yang sudah tidak asing lagi ku terima.

“Kamu dimana? Ayok cepetan. Aku udah di parkiran.”

Dengan segera aku berlari dan meninggalkan teman-temanku. Sesampainya di parkiran aku langsung menuju kearahnya dan mengantarku pulang kerumah. Disepanjang jalan satu katapun tidak keluar baik dari mulutnya maupun dari mulutku. Aku bingung ada apa dengan dia.

Setiap magrib tidak lupa aku mengingatkannya untuk solat. Tapi aku heran, kenapa dia tidak membalasnya. Ketika aku sedang asik mendengar musik, tiba-tiba saja hpku bergetar. “Dreet..Dreet..” dengan segera aku mengambil hpku, karena ku tau itu pasti dia.

“Ris, ada kabar gak enak, kamu gak boleh sedih cukup aku yang sedih,” isi pesan singkatnya.

“Kamu kenapa? Ada apasih?” tanyaku penasaran.

“Aku mau pindah jauh ke Kalimantan.” Ujar Kian.

“Kamu bohong ya? Ah kamu becandanya basi.” Dengan segera aku membalasnya.

“Aku gak bohong Ris, ayah aku kemaren bilang. Kenaikan kelas. Satu bulan lagi aku pindah. Aku gak tega bilang ini ke kamu. Tapi mau gimana lagi, aku juga gak pengen gini.” Balasnya.

Tidak terasa air mataku jatuh begitu saja, bersamaan dengan lepasnya handphone dari genggamanku. “ Ini mimpi apa kenyataan sih? Ih gilak semuanya gilak !!!” air mataku terus berjatuhan tanpa diperintah. Langsung ku ambil handphoneku di lantai, tanpa berfikir panjang aku langsung menelphonnya.

“Kamu bohongan gak sih? Jawab serius!” kata-kata yang keluar pertama kali dari mulutku.

“Iris, aku minta maap sama kamu, aku gak maksut buat kamu sedih.” Ujar Kian.

Bibirku tak sanggup lagi untuk berbicara sepatah katapun. Langsung ku non aktifkan hpku dan melemparnya jauh dariku. Aku benar-benar tidak pernah menduga bahwa dia akan pindah. Kabar ini sungguh membuatku seperti kehilangan tulang-tulang rangka yang menopang tubuhku. Badan ku terasa sangat lemah, dan aku hanya bisa terduduk lemas sambil menggigit guling yang ada di genggamanku.

Pagi ini suara alarm kembali membangunkanku. Mataku terasa berat untuk dibuka, mungkin karena menangis semalam, sampai ku merasa kelopak mataku berat sekali seperti ditimpah batu gilingan cabe seberat 1 kg. ketika ku berkaca di cermin, langsung ku berlari ke kamar mandi dan mencuci mataku. Aku tak ingin dia tau kalau semalaman aku menangis.

Seperti biasanya kami berangkat bersama, tak ada satu katapun yang keluar saat itu. Karena aku berusaha menahan air mata yang selalu meronta ingin keluar. Aku pun selalu menundukkan kepalaku. Aku tak ingin dia melihat mataku yang bengkak ini. Ketika hampir sampai kelas aku mengajaknya berbicara.

“Kok pindah?” ujarku.

“Ayah pindah tugas.” Jawabnya singkat.

“Trus rumah kamu gimana?” ujarku penasaran.

“Di jual kata ayah,” jawabnya ringan.

Aku menggerutu dalam hatiku “ih,cowok ini enteng banget sih jawabnya, gak tau apa semaleman gua nyaris mati tenggelem di air mata!” Ketika sampai depan kelasnya, aku langsung lari dan menuju kelasku. Semua air mata jatuh tak tertahan lagi. Teman-temanku langsung menghampiriku, semua bertanya ada apa denganku.

Berat, Cuma itu yang sekarang ada di otakku. Dalam benakku, aku kesal sekali padanya. Hari demi hari berjalan tanpa terasa. Aku tak bisa bersikap seperti biasanya. Mata merah dan muka lusuh yang selalu terpasang di wajahku setiap harinya. Setiap malam, kebiasaan setiap harinya, selalu smsan dengan dia. Tidak lain sekarang yang dibahas yaaa tentang dia, kepindahannya, dan nasibku setelah itu. Satu hal yang menguatkanku ketika dia mengirimkan pesan singkat.

“Kamu tenang aja, dua taun lagi aku tunggu kamu di Jogja ya ris, kita kuliah disana. Kamu mau kan?”
Aku hanya bisa mengiyakan dan berharap dua tahun lagi itu jadi kenyataan. Tapi dua taun itu gak sebentar. Air mataku kembali menetes hingga ku terlelap dalam tidur dengan diiringi lagu Secondhand Serenade yang sama sekali tak kusukai awalnya. Tapi mungkin Stay Close Don’t Go lagu itu cocok dengan nasibku sekarang ini.

Aku membulatkan tanggalan di kalender untuk satu harinya. “Sebentar lagi” desahku sambil menghela nafas. Tentunya sisa waktu ini akan ku manfaatkan baik-baik. Aku dan Kian selalu kemana-mana berdua. Rasanya tak ingin bergeser satu detikpun dari sampingnya bila mengingat nanti mungkin tak seindah hari ini.

Di hamparan rerumputan dekat rumahku. Tempat biasa kami bersama. Ku rasakan kesejukan angin yang berhembus.

“Kalo kamu pindah nanti, kalo punya cewek baru jangan lupa sama aku ya Ki,” ujarku sambil memegang erat tangannya dan merebahkan kepalaku di pundaknya.

“Kalo aku pindah nanti, kamu gak boleh sama cowok laen ya, aku sayang kamu Ris. Janji ya !” jawabnya sambil menatap wajahku.

Percaya gak percaya mungkin dia masi bisa bilang sayang sekarang, tapi ntah untuk nanti. Buat LDR (Long Distance Relationship) sudah pasti dan kudu wajib ada yang bakal ngerasain sakit hati.
Hari ini, 16 Juni 2011, baju abu-abu yang melekat ditubuhku. Melengkapi kepucatan wajah dan beratnya mata yang menahan beban air ini. Aku berdiri di tengah keramaian. Yaaah.. hari ini aku berada di Bandara Radin Intan, sungguh akan menjadi tempat yang paling ku benci.

“Iris….,” ujar Kian.

Aku hanya menoleh dan tetesan air matapun tak bisa kutahan. Kudekap erat Kian dan aku sama sekali tidak ingin melepasnya.

“Aku sayang sama kamu. Kamu gak boleh pergi ! Bodok amat !” tak tahan lagi aku menahannya.

“Happy Anniversary 4 mounth sayang” ujarnya.

Aku baru sadar ternyata sudah 4 bulan kami bersama.

“Aku tunggu kamu di Jogja ya,” ujarnya kembali sambil perlahan melepaskan dekapanku.

“Aku mau kasih kamu ini, di pake ya Kian.”

Bungkusan kado berwarna merah berisi sweeter merah yang sudah lama kubelikan. Awalnya aku berniat akan memberikannya saat dia ulang tahun nanti. Langkah- langkah kecil itu membawanya pergi dan hilang dari penglihatanku. Sejenak kupejamkan mata dan suara pesawat itu membawanya pergi jauh dariku. Kisahku seperti sinetron yang tak pernah kuduga awalanya, entah apa yang harus kulakukan sekarang. Mungkin menepati janji-janji itu sampai mengunggu dua tahun lagi kalaupun tuhan mempertemukan kami. Selamat datang kesendirian. Selamat datang kesedihan.

“ I can see you if you are not with me I can say to my self if you are oke”



nama pengarang : Aiegustin Diansari Pranoto
asal sekolah : SMAN 9 Bandarlampung
alamat facebook : sekai_minto@yahoo.com / Aiegustin Diansari
alamat twitter : @aiegustin

Read more: http://cerpen.gen22.net/2011/12/jangan-ulang-hari-itu.html#ixzz293KqGziW

Cerita Pendek

ANTARA PERSAHABATAN & CINTA
Karya oleh :
“ D’aNgeL oF RizVia ”

SMP Nusa Bangsa yang semula terkesan damai dan syahdu, tiba-tiba pecah oleh hiruk pikuk para siswa. Semua pintu kelas telah terbuka lebar untuk siswa-siswi yang akan kembali ke rumah. Mereka tampak saling berebutan menuju halaman sekolah.


ANTARA PERSAHABATAN DAN CINTA
Di halaman sekolah, Livia, Zizy, A’yun, dan Qory sedang menunggu sahabat2 mereka yang lain, yaitu Arsya, Fian, Romi, Marvel, dan Nuri. Setelah kelima cowok itu datang, mereka segera pulang ke rumah bersama-sama. Itulah yang mereka lakukan setiap hari, berangkat sekolah, istirahat di kantin, bahkan pulang sekolah pun mereka bersama-sama, karena mereka semua bersahabat sejak kecil. Tapi lain bagi Arsya dan Marvel, karena Arsya adalah murid pindahan dari Indramayu, Jawa Barat. Sedangkan Marvel adalah mantan pacar Livia. Meski begitu, mereka tetap menjalin persahabatan dengan keduanya. Yah,, persahabatan sejak kecil, sekarang dan mungkin untuk selamanya.

Suatu hari di bulan April 2010, Livia mendapat masalah dengan pacarnya yaitu Arinal. Karena Arinal sudah tidak pernah menghubungi Livia lagi, dan itu yang membuat Livia menjadi sedih, Livia berpikir bahwa Arinal sudah tidak mencintai dia lagi, sudah berkali-kali Livia meminta pendapat pada ketiga sahabatnya, yaitu Zizy, A’yun, dan Qory, tapi mereka selalu meminta Livia untuk memutuskan hubungan dengannya dan mencari cowok yang lebih baik lagi, karena memang sudah sejak awal mereka tidak pernah menyetujui hubungan Livia dengan Arinal. Hingga Livia meminta pendapat pada sahabatnya yang lain, yaitu Arsya, Fian, dan Romi, tetapi jawaban mereka sama saja, Livia bingung dan sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Tetapi Arsya selalu menghiburnya, dia selalu memberikan motivasi kepada Livia, hingga sedikit demi sedikit hubungan mereka semakin dekat dan semakin akrab, dan kini Arsya lah yang menggantikan Arinal dalam inbox sms di hp-nya Livia. Dan lambat laun pula, timbul chemistry dalam hati mereka berdua.

Pada suatu hari, terjadilah pertengkaran antara Livia dengan Arsya, awalnya Arsya marah kepada Livia karena suatu hal, dan Livia sudah meminta maaf, tetapi Arsya berat untuk memaafkannya, hingga Livia nekat membohongi Arsya dengan cara menyamar menjadi seseorang yang bernama Vina agar dia bersedia memaafkan Livia. Awalnya Arsya percaya, dan pada suatu sore setelah pulang sekolah, hari itu hujan deras, Arsya meminta pada Livia untuk menemuinya di kebun belakang rumah, walau saat itu hujan deras, tapi Livia tetap datang dan dengan tubuh basah kuyup, disitulah Arsya memaafkan Livia. Setelah kejadian itu, hubungan mereka berdua kembali membaik seperti semula, hingga pada suatu hari, kebohongan Livia terbongkar, Arsya tahu bahwa selama ini Vina itu adalah Livia sendiri, dan Arsya berpikir bahwa Livia membohongi dirinya agar bisa memanfaatkannya untuk bisa memaafkan Livia, akhirnya terjadilah pertengkaran besar antara Arsya dan Livia, berkali-kali Livia meminta maaf pada Arsya tetapi Arsya menolak, hingga Livia pun menyerah dan dia membiarkan Arsya melampiaskan kekesalannya dengan cara menjauhi Livia dan berhenti menghubungi Livia. Sudah 1 minggu berlalu, Arsya masih tetap belum memaafkan Livia, dan pada suatu malam, Livia merenung sendiri di luar rumah, dia sedih karena sampai saat itu Arsya belum juga memaafkannya, dia juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menunggu keputusan Arsya untuk mau memaafkannya, tanpa tersadar dia menangis, sambil menatap bintang2 di langit malam, dia berdo’a kepada tuhan agar Arsya mau memaafkannya, tiba-tiba Livia mendapat sms dari Fitri, temannya yang 1 rumah dengannya, Romi, dan juga Arsya. Dalam sms itu, Fitri bertanya2 tentang Arsya, setelah mengetahui kejadian yang di alami oleh Livia dan Arsya, Fitri menyuruhnya untuk menghubungi Arsya lewat sms, tetapi Livia menolak karena dia tahu bahwa Arsya tidak akan membalasnya, dan dia takut Arsya akan marah padanya. Tapi Fitri terus mendesaknya. Akhirnya Livia memberanikan diri untuk menghubungi Arsya kembali, dan tidak disangka, Arsya membalas sms Livia, dan pada malam itulah Arsya kembali memaafkan Livia, dan pada saat itulah Livia tahu bahwa Arsya lah yang mendesaknya untuk menghubunginya dengan berpura2 menjadi Fitri. Sejak kejadian itu, Arsya semakin tahu dan mengenal siapa Livia sebenarnya, Arsya mengetahui semua sifat luar dan sifat dalam Livia. Dan sejak kejadian itu pula, Livia semakin merasa bahwa dia punya perasaan dengan sahabatnya, Arsya.

Di bulan Juni 2010, saat liburan akhir semester, Arsya pulang ke kota asalnya, yaitu Indramayu, walaupun Arsya dan Livia berjauhan, tetapi mereka tetap berhubungan lewat sms, dan pada suatu hari Livia menyatakan perasaannya kepada Arsya, Dia berterus terang bahwa dia mulai jatuh cinta padanya sejak kejadian pertengkaran itu, Livia berkata bahwa dia tidak bisa menahan lagi perasaannya, dia pikir perasaannya pada Arsya begitu kuat, dan ternyata Arsya membalas pernyataan cinta Livia, tak disangka bahwa Arsya pun mencintai Livia, tetapi sayangnya, cinta mereka tidak bisa bersatu, karena mereka berdua sama2 sudah ada yang punya, mereka berdua sama2 sudah mempunyai kekasih, dan mereka berdua juga tahu akan hal itu, akhirnya Arsya terpaksa memutuskan untuk tetap menjalin cinta dengan Livia tanpa status, dan tetap menjalani hubungan dengan kekasih masing2, dan Livia pun menyetujuinya karena sudah tidak ada cara lagi untuk mereka berdua, sedangkan mereka berdua sendiri tidak bisa mengakhiri cinta mereka begitu saja. Hal yang lain terjadi pada A’yun dan Fian, pada saat yang sama, Fian menyatakan cintanya kepada A’yun, tak disangka bahwa Fian sudah lama menyimpan perasaan cintanya itu selama 5 tahun, dan akhirnya A’yun pun menerimanya dan mereka resmi menjalin hubungan.

Yah, cinta yang berawal dari sebuah persahabatan. Dan hari-hari baru pun mulai mereka jalani bersama2. Sahabat2 mereka pun sudah mengetahui semua yang terjadi antara Livia dan Arsya dan mereka mendukungnya.

Seiring dengan berjalannya hubungan Livia dg Arsya, hubungan Livia dan Arinal tidak pula membaik, hubungan mereka semakin renggang, dan Livia pun semakin yakin bahwa yang dulu pernah dikatakan oleh ketiga sahabatnya itu adalah benar. Livia juga semakin yakin untuk memutuskan hubungannya dengan Arinal, tetapi Arsya selalu mencegahnya. Arsya tidak ingin Livia putus dengan Arinal yang disebabkan oleh kehadiran dirinya di tengah-tengah hubungan mereka berdua. Tetapi Livia tetap pada keputusannya. Awalnya Arsya mencegahnya, tetapi Livia meyakinkan Arsya bahwa keputusannya itu bukan semata-mata disebabkan oleh kehadiran Arsya dalam hidupnya, melainkan karena Livia memang sudah tidak lagi mencintai Arinal lagi, dan dia sudah terlanjur sakit hati karenanya. Akhirnya Arsya pun percaya dan mau menerima keputusan Livia dan sejak itu, status Livia menjadi single kembali.

Pada bulan Agustus 2010, Arsya pun mendapat masalah yang sama dengan kekasihnya Sella, hubungan mereka pun putus di tengah jalan, dikarenakan Sella terpaut hati dengan yang lain. Arsya sangat terpukul, dia sangat sedih dan kecewa dengan keputusan Sella, Arsya bingung harus bagaimana, dia pun menghubungi Livia dan menceritakan semua yang terjadi padanya, dalam hati Livia senang juga sedih, dia senang karena sudah tidak ada lagi yang memiliki Arsya dan itu memudahkannya untuk mendapatkan Arsya, tapi di lain hati dia juga sedih melihat Arsya yang sedih dan terpukul karenanya, Livia tak sampai hati melihat Arsya terpuruk dalam kesedihan seperti itu, Livia pun bingung harus berbuat apa, dia hanya bisa menghibur Arsya lewat sms, karena saat itu Arsya tak lagi bersamanya, Arsya kembali ke Indramayu, berkali-kali dan berhari-hari Livia terus menghibur Arsya, hingga Livia pikir Arsya mampu melupakan Sella begitu juga dengan kenang2annya. Tapi ternyata, tak semudah itu bagi Arsya untuk menjauhi Sella, bahkan melupakannya. Sudah 4 bulan berlalu sejak tragedi cinta Arsya di bulan ramadhan, hubungan Livia dengan Arsya pun semakin dekat, semakin membaik, dan semakin serius, tetapi Arsya masih belum bisa untuk menjadi milik Livia sepenuhnya, Livia pun hanya bisa pasrah menerima keadaan cintanya saat ini, karena dia tak mau terlalu memaksa Arsya untuk menjadi milik dia sepenuhnya. Pada bulan November 2010, Livia, Arsya, Fian dan semua sahabatnya merayakan hari ultah A’yun di rumahnya. 2 hari sebelum hari H, Livia dan sahabatnya yang lain merencanakan sesuatu untuk memberikan kejutan pada A’yun, dan ternyata kejutan itu pun sukses besar, hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan untuk A’yun dan Fian, Livia dan Arsya, dan juga sahabat2nya yang lain. Dan pada bulan ini juga, menjadi bulan yang sangat membahagiakan bagi Livia dan Arsya, karena di bulan ini, hubungan mereka semakin tumbuh harum mewangi, Arsya semakin menyayangi Livia, dari hari ke hari, sikap Arsya pada Livia pun semakin mesra dan romantic, begitu juga dengan Livia.

Tetapi sayangnya, keadaan itu tidak bertahan lama, mulai memasuki bulan Januari 2011, hubungan mereka pun renggang dikarenakan Livia mendengar kabar bahwa Arsya kembali dekat dengan mantan pacarnya, yaitu Sella. Kabar tersebut membuat Livia sangat kesal, bahkan Arsya pernah berduaan dengan Sella di depan kelas Livia, dan Livia melihatnya ketika kelas bubar, hingga Livia tidak mau keluar dan itu membuat teman-temannya keheranan.


“Kenapa kamu Liv..? koq nggak jadi keluar.. padahal kan kamu tadi bersemangat banget pengen pulang..” Kata Bella. “Tuh, liat aja sendiri, ada pemandangan yang bikin sakit hati.!!” Kata Livia kesal. Lalu Bella pun keluar dan melihat Arsya berduaan dengan Sella, dan menyindir mereka, “Ehm2, pacaran koq di sekolahan sich.. Inget2, ini sekolah, bukan tempat pacaran..!!” Sindir Bella. Dan mereka berdua pun pergi. Saat sampai di rumah, Arsya mendekati dan menggoda Livia, tetapi Livia malah menampakkan wajah kesalnya, hingga membuat Arsya terheran-heran dan bertanya pada Livia.

“Dek, kenapa sich..?? koq cuek gitu,,,” Tanya Arsya.

“Tau dech, pikir aja sendiri,,!!” Kata Livia kesal.

“Iiicch, marah ya.. Ada apa sich emangnya..??” Tanya Arsya bingung.

“Huh, udah puas ya tadi berduaan di depan kelas..!! Nggak tau malu banget sich..!! Bikin sakit hati aja..!!” Kata Livia marah.

“Berduaan..?? Ya ampun.. Jadi gara2 itu.. Gitu aja koq marah sich..” Kata Arsya.
 
“Kamu ini gimana sich, gimana nggak marah coba,! Aku pikir kamu udah bisa lupain si Sella, tapi ternyata ini malah berduaan, di depan kelas aku lagi,,!! Gila kamu ya..!!” Kata Livia yang semakin marah.

“Ya udah, aku minta maaf dech,, nggak akan ngulangin yang kayak gitu lagi,, maafin aku ya dek..” Kata Arsya meminta maaf.
 
“Tau ah..!! Udahlah, males aku ngomong sama kamu..!!” Kata Livia berlalu.

”Tunggu2.. Jangan gitu donk,, aku kan udah minta maaf, iya2 aku janji, maaafin aku ya My Princess..” Bujuk Arsya.

“Ya udah iya, aku maafin, tapi bener ya jangan di ulangin lagi, janji..!!” Kata Livia sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

“Iya, aku janji adekku tersayang..” Kata Arsya membalas. “Nah, sekarang senyum donk.. jangan cemberut gitu, jelek tau..” Kata Arsya lagi sambil mencubit pipi Livia.

“Hufft, iya sayang…” Kata Livia tersenyum senang.

Setelah kejadian itu, hubungan mereka pun kembali normal. Dan dari kejadian itu, dapat disimpulkan bahwa mereka berdua saling menyayangi, dan cinta mereka berdua begitu kuat, dan tak bisa terpisahkan. Dan mereka pun menjalani hari-hari indah seperti biasanya.

Pada bulan Februari 2011, terjadi pertengkaran kembali antara Livia dan Arsya, karena Arsya melihat dan mengetahui bahwa Livia kembali berkomunikasi dengan mantan pacarnya yaitu Marvel, Arsya cemburu begitu melihat Livia SMS_an dengan Marvel, Livia yang mengetahuinya segera meminta maaf pada Arsya, tetapi Arsya diam saja, seakan-akan dia tak mau memaafkan Livia, 5 hari Livia menjalani hari tanpa Arsya di sampingnya, Livia sedih dan meminta maaf kembali pada Arsya, bahkan Livia berkata bahwa dia tidak akan berhubungan lagi dengan Marvel, tak akan membalas sms Marvel lagi, dan bahkan akan menghapus nomer Marvel dari kontak HPnya, setelah mendengar pernyataan Livia itu, Arsya pun akhirnya mau memaafkan Livia. Dan pada bulan ini, LPP (Language Progress Program) di sekolah mereka mengadakan tour di Jogjakarta untuk menyelesaikan tugas terakhir mereka yaitu conversation dengan turis2 yang ada disana. Tetapi kini, hanya Livia dan Qory yang ikut, karena A’yun dan Zizy sudah sejak awal tidak mengikuti LPP. Saat berada dalam bis, Livia menghubungi Arsya, dia meminta maaf karena tidak sempat berpamitan dengan Arsya tadi saat di rumah, dan disitulah Livia berpamitan dengan Arsya, sekaligus meminta do’a agar selamat sampai tujuan juga selamat sampai di rumah dan agar lancar dalam menjalankan tugasnya saat disana. Setelah itu mereka melanjutkan SMS_annya, saat SMS_an itu, Livia berkata bahwa dalam bis itu dia sangat kedinginan, sedangkan sweaternya ada di dalam tas dan Livia tak bisa mengambilnya karena sweater itu ada di dasar tas, Arsya pun memberikan perhatiannya pada Livia dengan menyuruhnya untuk mengambil sweater itu meskipun ada di dasar tas, demi Livia agar tidak kedinginan lagi, dan selama dalam perjalanan tour itu Arsya selalu memberikan perhatian pada Livia hingga Livia kembali. Livia juga tidak lupa untuk memberi Arsya dan sahabat2nya oleh-oleh dari Jogja. Saat di Malioboro, Livia membelikan kaos hitam Jack Daniel dan souvenir berupa gantungan segitiga yang di dalamnya terdapat miniatur candi borobudur untuk Arsya. Begitu juga dengan sahabat2nya. Livia juga membelikan oleh-oleh berupa bakpia untuk sahabatnya juga untuk keluarganya, Livia pun sampai di rumah kembali pada pagi harinya.

Dan pada bulan Maret 2011, tepatnya pada tanggal 4 dan 5, Livia, Zizy dan A’yun pergi ke Malang untuk mengikuti Tes Penerimaan Siswa Unggulan Baru di MAN 3 MALANG, sebelum pergi, Livia menyempatkan untuk berpamitan dengan Arsya dan meminta dukungannya sekaligus do’a untuknya, begitu juga dengan A’yun dengan Fian, mereka juga meminta dukungan dan do’a kepada semua teman dan sahabatnya. Dan pada tanggal 10, Livia melihat pengumuman kelulusan tes tersebut, tapi ternyata, Livia, Zizy dan A’yun tidak lulus, Livia pun membicarakan hal itu dengan Arsya lewat sms, saat SMS_an itu, Livia berkata bahwa mereka bertiga tidak lulus dan Livia sangat sedih, lalu Arsya pun menghiburnya dengan berkata bahwa tidak semuanya yang kita inginkan bisa tercapai, dan itu semua membutuhkan proses, Arsya mengakui bahwa Livia adalah cewek yang pintar dan cerdas, dan Arsya yakin bahwa Livia dan yang lainnya pasti bisa diterima pada tes regulernya, Arsya berkata bahwa dia bangga bisa mempunyai cewek seperti Livia yang pintar, karena dia tahu kalau Malang itu adalah tempat sekolahnya anak-anak yang pintar,, mendengar hal itu, Livia menjadi semangat dan tidak bersedih lagi, Livia pun berterima kasih pada Arsya karena sudah memberinya dukungan dan semangat.

Pada tanggal 23 Maret, Livia merayakan ultahnya bersama dengan Arsya, A’yun, Fian, Romi, Bella, dan Ana. Dua hari sebelumnya tepatnya tanggal 21 Maret, A’yun mempunyai rencana untuk ngerjain Livia habis2an, saat malamnya, Livia mengirim SMS pada Arsya, tetapi Arsya tidak membalasnya, setelah agak lama, Arsya membalas dan meminta maaf karena dia telat, Arsya berkata bahwa dia keasyikan SMSan dengan Lia, cewek Indramayu tetangganya, Livia pun kesal dan marah pada Arsya, dan saat itu juga, A’yun sms Livia, dia berkata bahwa dia sangat marah sekali dengan Arsya karena siang tadi Arsya mencubit pipinya di depan Fian, dan sekarang A’yun bertengkar dengan Fian, A’yun pun meminta tolong pada Livia agar Livia mau membantunya membicarakan masalah ini dengan Arsya, Livia pun bingung harus bagaimana, karena saat itu Livia juga sedang bermasalah dengan Arsya. Keesokan paginya, Livia bertemu dengan A’yun di sekolah, A’yun marah2 pada Livia karena perbuatan Arsya kemarin, Akhirnya Livia berjanji untuk membantunya, saat itu juga, Arsya ngerjain Livia lagi, sehingga membuat Livia makin sedih, dan malam harinya, Livia berkata pada Arsya lewat SMS tentang masalah A’yun itu, lalu Arsya meminta nomer A’yun untuk meminta maaf, setelah agak lama, Livia merasa sudah mengantuk dan dia ketiduran, tapi Arsya membangunkan Livia, Arsya melarang Livia tidur karena Arsya kesepian dan tak bisa tidur, Arsya meminta Livia untuk tetap menemaninya malam itu, Livia pun terpaksa menyetujuinya. Pada pukul 12.00 malam tepat, Hp Livia berdering, seseorang menelponnya, dia memakai privat number, Livia pun mengangkatnya, “Surprise..!!!” Ternyata itu adalah Arsya, Arsya mengucapkan met ultah pada Livia, Livia sangat bahagia sekali, Arsya bercerita bahwa Lia, dan masalah A’yun dan Fian itu adalah bagian dari sandiwara mereka untuk memberikan surprise ini padanya, Arsya juga berkata bahwa dia menelponnya karena dia ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan met ultah ke Livia. Pada keesokan harinya tepatnya tanggal 23 Maret, setelah pulang sekolah, Livia, Ana, Bella, dan teman2 lainnya yang tergabung dalam kelompok dance Livia mengadakan latihan di rumahnya, saat perjalanan menuju rumah Livia, Ana menyiram Livia dengan air yang dibawa oleh Ana dari rumah, Livia sangat terkejut, tapi Livia tak bisa lari, setelah sampai di rumah, Ana menariknya sampai di kamar mandi dan menyiram Livia kembali, Livia sangat malu, karena disitu ada Arsya dan Fian. Setelah itu Livia mengganti bajunya dan mulai latihan kembali. Tiba2 A’yun datang, dan langsung menuju ke atas menemui Fian pacarnya, Arsya dan Romi, setelah itu dia turun lagi menemui Ana dan meminta Ana untuk menemaninya ke atas. Setelah agak lama, Ana kembali turun memanggil Livia dan mengajaknya ke atas juga, saat di atas, Ana mengajak Livia untuk membicarakan sesuatu tentang kelompok dancenya di luar, tiba2 dari belakang Arsya menyiramnya, disusul dengan siraman dari A’yun, Fian, Romi, Ana dan Bella, Livia sangat terkejut juga bahagia, setelah penyiraman selesai, tiba2 Arsya datang di hadapan Livia dengan membawa sebuah kado di tangannya. Arsya mengucapkan met ultah sekali lagi pada Livia, dan memberikan kado tersebut padanya, dan Arsya menyuruh Livia untuk membukanya. Dan ternyata isinya adalah sebuah jam tangan dan di dalamnya terdapat surat, Livia pun membacanya, dan Arsya meminta Livia untuk segera memakai jam tangan itu, tetapi Livia menolaknya karena jam tangan itu terlalu besar untuk ukuran tangan Livia, tetapi Livia berjanji akan segera memakainya, setelah itu A’yun dan Fian yang memberinya kado, isinya adalah 1 boneka semut besar, 1 boneka teddy kecil dan gantungan. Setelah semua teman2 Livia sudah pulang, Marvel , mantan pacar Livia datang untuk mengucapkan met ultah pada Livia. Setelah agak lama mengobrol, akhirnya Marvel pun pulang. Malam harinya saat SMSan, Arsya berkata bahwa dia sangat bahagia karena bisa merayakan hari ultah Livia, dia berkata bahwa dia sangat bahagia ketika melihat Livia tersenyum dan tertawa bahagia seperti tadi dan berharap bahwa hari bahagia itu akan selalu terjadi, sehingga Arsya selalu bisa melihat Livia tersenyum selalu. Hari itu menjadi hari yang sangat membahagiakan buat Livia, Arsya, dan sahabat2nya.

Pada akhir bulan Maret 2011 itu, Livia dan Arsya juga semua sahabat2nya mengikuti ujian Try out UN. Dan pada tanggal 9 April, Livia mengajak Fian untuk ikut memberikan surprise di hari ultah Arsya, pada pukul 10.00, Livia naik keatas untuk menemui dan memberikan kejutan itu untuk Arsya, dengan membawa kue ultah buatannya sendiri, disertai dengan nyanyian ultah ala Livia, membuat Arsya terkejut dan tersentuh hatinya, setelah itu Livia menyuruh Arsya untuk meniup lilinnya dan memakan kuenya, tetapi Arsya malah memberikan potongan kue pertamanya tersebut pada Livia dan menyuapinya, setelah itu baru Arsya meminta Livia untuk balik menyuapinya, Livia sangat bahagia, begitu juga Arsya yang merasa bahagia dengan adanya surprise dari Livia. Setelah agak lama, tiba2 Fian datang dan langsung melempar tepung yang ada di genggamannya pada Arsya, belum puas dengan lemparan tepung itu, Fian pun melemparkan tepung itu juga pada Livia, hingga mereka berdua sama-sama belepotan karena lemparan tepung itu, saat melihat Livia yang wajahnya penuh dengan tepung, Arsya pun tertawa dan mengusap wajah Livia dengan tangannya, membersihkan tepung itu dari wajahnya, begitu juga Livia, dia pun mengusapkan tangannya pada wajah Arsya yang penuh dengan tepung. Setelah selesai membersihkan wajah masing-masing, Arsya menggenggam tangan Livia dan berterima kasih pada Livia karena telah memberikan surprise itu padanya, dia berkata bahwa dia sangat bahagia sekali hari itu, lalu Arsya mencium kedua tangan Livia hingga membuat Livia tersipu malu. Dan pada awal bulan Mei, Arsya meminta izin pada Livia untuk pergi, pulang ke rumah asalnya di Indramayu. Awalnya Livia berpikir untuk tidak mengizinkan Arsya pergi, tetapi Livia memikirkan kebahagiaan Arsya juga, Livia berpikir bahwa Arsya butuh istirahat di rumah asalnya, dan akhirnya Livia pun mengizinkannya. Dan Arsya pun berterima kasih pada Livia dan mencium pipi Livia. Livia tersipu malu dan merasa bahagia. Tepat di hari perginya Arsya, Livia diminta oleh sahabatnya Fian untuk menemani dia mengantar kepergian Arsya ke stasiun. Awalnya Livia ragu2 karena pada saat itu adik Livia sakit keras dan Livia diminta untuk menjaga adiknya itu di rumah sakit. Karena Livia tidak ingin melewatkan kesempatan indah itu, akhirnya Livia meminta izin pada kedua orang tuanya dengan alasan reuni alumni, dan Livia pun ikut mengantar kepergian Arsya ke stasiun bersama dengan Fian. Sebenarnya Arsya tidak mengizinkan Fian untuk mengajak Livia ikut serta mengantarnya karena dia takut akan terjadi sesuatu yang buruk padanya saat di jalan nanti, tetapi Fian tetap bersikeras untuk mengajak Livia dan dia berkata bahwa tidak akan terjadi apapun pada Livia dan dia juga berjanji untuk menjaga Livia saat di jalan nanti, dan akhirnya Arsya pun menyetujuinya dengan terpaksa. Saat tiba di stasiun, Arsya pun mengucapkan kata terakhirnya sebelum meninggalkan Livia pergi. Dia berpesan pada Livia untuk selalu menjaga kesehatannya selama tak ada Arsya disampingnya, dan selalu mengingat Arsya dimanapun dan kapanpun, dan akan selalu menjaga hati dan cintanya hanya untuk Arsya sampai saatnya Arsya kembali. Livia pun menyetujuinya dan berjanji akan melakukan semua yang diminta oleh Arsya. Begitupun sebaliknya dengan Arsya. Kemudian Arsya pun mencium pipi dan kening Livia dan mengucapkan salam perpisahan padanya. Dan setelah itu Arsya pergi meninggalkan Livia dan Fian menuju kedalam peron. Setelah Arsya masuk, Livia dan Fian pun pulang.

Satu minggu berlalu Livia jalani hari-harinya tanpa Arsya, tapi walaupun mereka berjauhan, mereka tetap saling memberi kabar, saling sms_an, saling merindu, dan masih tetap saling menjaga perasaan masing-masing. Tetapi, kebahagiaan yang Livia rasakan tidak bertahan lama, sampai suatu hari ada sebuah kejadian yang membuat hubungan mereka hancur berkeping-keping.

Satu minggu sudah Livia menanti kabar dari Arsya yang tak kunjung membalas satupun sms dari Livia. Livia sangat sedih dan tak hentinya memikirkan Arsya. Sampai suatu hari, Livia mengirim sms pada Arsya yang berisi bahwa Livia sudah tidak kuat lagi menahan semua penderitaan yang sudah dia alami, Dia berkata bahwa lebih baik Livia pergi dari hidup ini dan tak kembali untuk selama-lamanya, dan Livia pikir Arsya akan tetap bahagia dan mungkin akan lebih bahagia jika melihat dan mendengar bahwa dirinya sudah tiada, dan tidak akan ada lagi yang mengganggu kehidupannya, dan terakhir Livia mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya pada Arsya. Disertai dengan tangisan dan keputus-asaan, Livia mengirimkan sms itu pada Arsya dan mulai mengambil sebuah cutter yang digunakan untuk melukai lengannya sendiri. Tapi sayangnya, Arsya tidak menggubris sms Livia, Livia semakin sedih dan semakin menggores lengannya. Sahabatnya, A’yun dan Fian yang mengetahui hal itu langsung mengirim sms pada Livia dan bertanya apa yang terjadi padanya. Tapi Livia tidak menjawabnya, A’yun dan Fian semakin takut jika terjadi hal yang buruk yang menimpa Livia. Esok paginya, A’yun dan Fian datang ke rumah Livia untuk memastikan keadaan Livia, saat A’yun masuk ke kamar Livia, A’yun menemukan Livia tergeletak dengan lengan penuh darah, A’yun terkejut dan menjerit hingga Fian datang menyusul ke kamar, begitupun dengan Fian, dia sangat terkejut melihat Livia tergeletak lemas disana. Lalu tanpa pikir panjang, A’yun segera menyuruh Fian untuk mengangkatnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Livia pun dirawat dan dokter berkata bahwa Livia kehilangan banyak darah, hingga dia harus melakukan transfusi darah dan sayangnya, persediaan darah di rumah sakit sedang kosong. A’yun dan Fian terkejut, mereka sangat sedih dengan apa yang menimpa sahabatnya, Livia. Mereka semakin sedih saat tahu bahwa darah mereka tidak ada yang cocok untuk di donorkan pada Livia dan satu-satunya orang yang darahnya cocok untuk di donorkan darahnya hanyalah Arsya. Fian pun bertanya pada dokter sampai kapan Livia bisa bertahan menunggu adanya donor darah tersebut, dan dokter pun menjawab bahwa Livia masih bisa bertahan selama 3 jam. Mendengar pernyataan dari dokter, Fian segera menelpon Arsya dan memberi kabar padanya tentang keadaan Livia yang kritis saat ini. Setelah berbicara panjang lebar, Fian kembali dengan tangan kosong, tanpa hasil, Arsya tidak bisa datang saat itu juga karena sibuk, dan meminta maaf pada mereka karena tidak bisa menolong Livia. Fian sangat kecewa dan sangat marah pada Arsya, tetapi A’yun menenangkannya dan mengajak Fian untuk tetap mencari donor darah untuk Livia. Saat A’yun dan Fian sudah hampir menyerah dan waktu sudah hampir habis, tiba2 Marvel datang dan berkata bahwa darahnya cocok dengan Livia dan dia bersedia untuk mendonorkan darahnya pada Livia. A’yun dan Fian sangat senang dan meminta Marvel untuk menemui dokter. Setelah tranfusi darah selesai dilakukan, dokter berkata bahwa keadaan Livia berangsung-angsur membaik. Mereka bertiga pun senang dan bersyukur bahwa sahabatnya akan sembuh, A’yun dan Fian juga berterima kasih pada Marvel telah membantu mereka juga Livia. Dan mereka pun bergantian menjaga Livia di rumah sakit. 3 hari sudah Livia jalani hari-hari buruknya di rumah sakit dan kini dia sudah kembali ke rumah. A’yun pun bertanya pada Livia apa yang terjadi padanya, dan mengapa Livia menggoreskan cutter tajam ke lengannya sendiri. Livia pun menceritakan apa yang terjadi padanya dan Arsya. Mendengar cerita Livia, Fian jadi semakin marah pada Arsya, tiba2 Livia menerima sms dari Arsya, dalam sms itu, Arsya marah2 pada Livia karena sms Livia dulu, dia berkata bahwa saat itu Arsya pergi jalan2 dengan teman2nya disana dan dia tidak membawa hp, hp nya dia tinggalkan di rumah dan sms Livia saat itu di buka dan dibaca oleh orang tua Arsya, hingga saat Arsya pulang, orang tuanya memarahi Arsya. Livia sangat sedih dengan sms Arsya, dia sedih kenapa Arsya tidak bisa memahami keadaan Livia dan malah memarahinya saat dia baru saja melewati masa-masa buruknya. Setelah perdebatan yang panjang dengan Livia, akhirnya Arsya berkata pada Livia bahwa lebih baik hubungan mereka hanya sebatas teman biasa saja, tidak lebih karena Arsya menyadari bahwa dirinya tidak bisa membahagiakan Livia dan malah membuatnya terluka, Livia pun tidak setuju dengan pernyataan Arsya dan berkata bahwa selama ini Livia tidak pernah merasa dilukai oleh Arsya dan semua yang terjadi padanya itu bukan semata-mata karena Arsya, tetapi karena kesalahan dirinya sendiri. Livia juga meminta maaf pada Arsya karena telah membuat dia dimarahi oleh orang tuanya dan meminta Arsya untuk menarik kata-katanya tadi. Livia juga menjelaskan bahwa jika Arsya merubah hubungan mereka menjadi sebatas teman biasa saja, Livia akan semakin sedih dan terluka, Livia akan lebih bahagia jika masih tetap bisa bersama dengan Arsya hingga sampai tiba saatnya nanti mereka harus berpisah. Arsya bingung dan tak bisa memutuskan hari itu juga, dan Arsya pun mohon diri pada Livia untuk mengakhiri sms tersebut. Dan diakhir sms, Arsya masih memberikan kiss bye nya untuk Livia. 1 hari setelah kejadian itu, Livia mencoba menghubungi Arsya kembali, dan Livia sangat bersyukur karena Arsya masih mau membalas sms nya, dan Arsya masih mau memaafkan Livia dan tetap mengizinkan Livia untuk memanggilnya dengan sebutan “Maz”. Dan 2 hari setelah itu, Livia dan Fian mengikuti rekreasi ArSemA(Arek Sembilan A) ke Malang dengan tujuan ke beberapa tempat, yaitu Masjid Turen, Wendit, Pasar Lawang dan terakhir adalah Wisata makam Sunan Ampel di Surabaya. Awalnya Livia pergi dengan perasaan bahagia, karena dia bisa pergi bersenang-senang dengan teman2 dan sahabat2nya. Saat perjalanan pulang, dia mencoba untuk menghubungi Arsya karena saat itu dia sangat merindukan Arsya. Tetapi ternyata Arsya menjawab sms itu dengan jawaban yang tidak pernah diharapkan oleh Livia, di sms itu dia malah memarahi Livia karena dia masih memanggil namanya dengan sebutan “Maz”, dan Arsya meminta pada Livia untuk tidak memanggilnya dengan sebutan itu lagi, Livia sangat sedih dan meminta maaf pada Arsya dan mencoba untuk menjelaskannya tetapi Arsya tidak peduli dan malah mengakhiri sms itu. Livia benar2 sedih dan menceritakan kejadian itu pada sahabatnya, Fian. Fian terkejut dan mencoba untuk membantu Livia karena dia merasa kasihan dengannya, Fian mencoba untuk menghubungi Arsya tetapi semuanya sia-sia, karena Arsya sama sekali tidak menggubris mereka. Livia semakin sedih, melihat hal itu, Fian segera menghubungi A’yun untuk datang menghibur Livia, tetapi semua itu juga sia-sia. Berkali-kali Livia mencoba menghubungi Arsya, tetapi Arsya benar-benar tidak memperhatikannya, bahkan Livia sempat berpikir bahwa Arsya sudah tidak mencintainya lagi, dia berpikir bahwa Arsya sudah memiliki kekasih hati yang baru, yang membuat Livia semakin sedih, hancur dan terluka. Pada malam harinya, Livia mencoba menghubungi Arsya kembali, dan akhirnya Arsya mau mengangkatnya, dan disitu Livia meminta maaf pada Arsya atas semua kesalahan yang telah dia perbuat selama ini, dan menanyakan sebab Arsya tidak mengizinkannya lagi memanggil dengan sebutan “Maz”. Tetapi Livia malah mendapatkan jawaban yang tidak pernah diinginkan olehnya. Arsya memaafkan tetapi dia tidak mau memberikan alasan kenapa dia tidak lagi mengizinkan Livia memanggilnya dengan sebutan “Maz” lagi, Arsya hanya berkata bahwa lebih baik hubungan mereka berdua hanya sebatas teman biasa saja, dan tak bisa melanjutkannya lagi, dan mengenai alasan, Arsya tidak mau menjawabnya, dia hanya diam saja. Livia sangat sedih dan mencoba membujuk Arsya, Livia berusaha untuk membuat Arsya merubah keputusannya, tetapi Arsya tidak peduli dan tetap pada keputusannya. Hal itu membuat Livia meneteskan airmatanya, dan menangis memohon2 pada Arsya, tetapi sayangnya Arsya tidak bisa merubah keputusannya itu, dan Arsya pun mengakhiri pembicaraan itu. Sepeninggal Arsya, Livia terus meneteskan airmatanya hingga membuat matanya bengkak. Livia sangat sedih dan terpukul saat mendengar langsung keputusan Arsya untuk mengakhiri hubungan mereka yang sudah terlanjur mereka jalani dengan hati yang tulus dan suci.

Esok paginya, Livia menceritakan semua kejadian yang telah dia alami pada sahabat2nya, mereka semua sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang Livia ceritakan. Fian, Marvel, A’yun dan Qory geram pada Arsya atas apa yang sudah dia lakukan pada Livia. Dulu, mereka sangat mempercayai Arsya untuk menjadi pengganti Arinal, untuk menjadi kekasih hati Livia, mereka sangat mendukung Arsya, tetapi sekarang, mereka benar2 geram pada Arsya dan merasa menyesal telah mempercayakan semua itu pada Arsya. Fian dan Marvel adalah orang yang pertama kali merasa kecewa dan marah pada Arsya, karena Fian mewakili ke-4 sahabat Livia pernah memberikan kepercayaan seutuhnya pada Arsya untuk selalu menjaga Livia, menjaga hati juga cintanya, tetapi semua itu malah di salah gunakan oleh Arsya dan mengkhianati Livia. Sedangkan Marvel, sebagai cinta pertama Livia dan orang yang pernah mengisi relung hati Livia yang juga telah memberikan kepercayaan pada Arsya untuk selalu menjaga dan mencintai Livia sepenuh hatinya, dan memberikan janji untuk tidak menyakiti hati Livia dan mengkhianatinya. Kemudian, mereka mencoba untuk menghibur Livia dan berkata untuk tidak terlalu terpuruk dalam kesedihannya, karena mereka yakin bahwa apa yang dilakukan oleh Arsya itu demi kebahagiaan Livia juga. Akhirnya Livia pun mendengarkan nasihat sahabat2nya dan mencoba untuk menerima semua takdir yang telah diberikan untuknya dan Livia juga akan selalu menanti kedatangan Arsya kembali.

2 Minggu kemudian, terdengar kabar bahwa Arsya telah kembali dan hal itu membuat Livia senang, tetapi Livia kembali teringat dengan apa yang telah terjadi diantara mereka berdua, hingga membuat Livia kembali bersedih dan mencoba untuk menjaga jarak dengan Arsya. Saat itu, adalah hari2 terakhir Livia bisa berkumpul dan bertemu dengan teman2nya, yaitu Romi dan terutama dengan Arsya, karena 3 hari setelah itu, akan diadakan acara wisuda tahun 2010/2011 di sekolah Livia. Sebenarnya Livia ingin menciptakan lebih banyak kenangan manis lagi dengan sahabat2nya, begitu pula dengan Arsya, tetapi hal itu sangat tidak mungkin, mengingat hal yang sudah terjadi antara Livia dan Arsya, hingga Livia pun menyerah dan tak mau memaksakan kehendak Arsya, walaupun begitu dia juga harus tetap bersyukur karena pernah diberikan kesempatan yang sangat tak ternilai harganya dan tak terhitung banyaknya untuk bisa menciptakan kenangan manis itu berdua dengan Arsya.

Tibalah saatnya untuk Livia berpisah dengan semua sahabat2nya setelah acara prosesi wisuda selesai. Saat di pertengahan acara, Livia sempat menangis sesenggukan karena mengingat banyaknya kenangan manis yang telah mereka buat bersama yang saat itu juga harus dia tinggalkan. Dan pada akhir acara, Livia tak mau kehilangan kesempatan untuk berfoto ria bersama sahabat2nya, bercanda dengan mereka untuk yang ke terakhir kalinya sebelum mereka semua pergi meninggalkannya begitu juga sebaliknya. Tetapi hanya 1 orang yang menolak untuk foto dengannya saat itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Arsya sendiri, padahal Fian, Romi, Marvel, dan Nuri mau memberikan kesempatan pada Livia untuk foto bersama diri mereka secara bergantian, setelah Arsya dibujuk rayu dan akhirnya dia tetap menolak ajakan itu, Livia pun menyerah dan membiarkan Arsya dalam kesenangannya sendiri. Dari jauh Livia menangis melepaskan kepergian Arsya dan dari jauh pula Livia mengucapkan selamat tinggal pada Arsya untuk selama-lamanya.
===== THE END =====

Cari Blog Ini